Selasa, 24 Maret 2015

MONEY



UANG KERTAS DARI MASA KEMASA
Oleh : Wili Wilastri
Awalnya saya tidak tahu sejak kapan uang itu menjadi sumber kebutuhan manusia apalagi penggunaan uang kertas, pada zaman dahulu melakukan transaksi itu menggunakan uang logam kemudian setelah adanya perlawanan pattimura terdapatlah uang kertas, eits tapi sebelumnya ada juga loh uang kertas senilai 500 rupiah, setelah saya  mengunjungi musium Bank Indonesia ternyata dugaan saya salah, uang kertas ternyata sudah ada pada zaman kolonial dengan dibuktikanya terdapat beberapa uang kertas yang terdapat dimusium itu yang awalnya saya kira uang kertas pertama adalah uang senilai 500 rupiah ternyata 1 rupiah pun ada percaya gak?harus dong ! kalau tidak percaya berkunjunglah kemusium Bank Indonesia.
Sedikit nih saya akan mengulas menurut wikipedia “Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.
Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks UUD 1945. ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.
Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Yogyakarta pada 1 Januari 1947, Seri ORI III di Yogyakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Yogyakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta pada 1 Januari 1950.
Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Yogyakarta , Surakarta, dan Malang.

Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatera yang beredar adalah mata uang Jepang. Pada 8 April 1947 Gubernur Provinsi Sumatera mengeluarkan rupiah URIPS-Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera.
Nah kan ternyata uang pertama itu senilai satu sen, kalau sekarang buat beli apa ya uang senilai satu sen ! tidak kebayang satu sen mungkin pada waktu itu bisa dipakai untuk membeli apapun.
Apakah kalian pernah bertanya pada orangtua kalian atua kakek nenek tentang uang zaman dulu kalaua saya sih uang kertas belum pernah melihat dan memegang langsung akan tetapi uang koin kakek nenek saya masih punya waktu saya berumur ya masih 15 kebawah lah , dulu sih saya pakai buat maen-maen sampe ilang tuh uang.
Kalian mungkin belum pernah melihat uang kertas yang dulu, saya masih menjumpai loh uang yang seharga 500 rupiah yang itu tuh adak kakek moyang kamu eits !! jangan marah becanda kok. Uang senilai 500 rupiah itu uang jajan saya pas kelas 3 SD loh bisa buat beli nasi uduk dan jajanan es lainya tapi sekarang yakin kalian mau dikasih uang 500 kesekolah bisa pake apa ya?? Begitulah perkembangan zaman uang 100.000 rupiah pun bisa dua hari habis bahkan satu hari.

Coretanku



HARAPAN
by.WILI WILASTRI

Aku berdiri di 9 meter tepat disebelah rel kereta…
penuh ilalang yang sedang berbunga putih bersih tanpa noda,,,
kurentangkan tanganku dan ku tadahkan kepala dan ku pejamkan mata…
mataharipun menyambut menghangatkan tubuhku…
kurasakan hangatnya matahari rasanya tak ingin berlalu…
Tak terasa hari sudah petang rasa sedih pun datang..
Tapi ku tetap semangat ..
Dalam hati ku berkata “ esok matahari ini pun akan kembali seperti yang telah kurasakan yaitu selalu menghangatkanku “ kataku menghibur diri…
Ternyata aku salah matahari kemarin tak seindah matahari hari ini..
Hari ini awanpun gelap...
Matahari terbit dan kemudian menghilang..
Hanya ada halilintar menyambar yang membuat hatiku enggan untuk mengingat hal indah itu bersama matahari..
Kini halilintar membuatku sadar matahari tak akan selamanya menemani, menghangatkan , serta membakar semangatku hingga berkobar-kobar..
Memang sulit membuang kenangan itu tapi apadaya halilintar menutup ingatanku..
Dan ku berharap  matahari yang terganti oleh halilintar kemudian berubah menjadi pelangi yang indah.

Minggu, 23 Maret 2014

Nyukcruk Galur Mapay Laratan Tapak Karuhun "Edisi Karawang"



Pada tanggal 20 Desember 2013 udara yang sangat dingin karena musim penghujan bertepatan pada pukul 07.36 WIB di depan kampus STKIP yang ramai oleh mahasiswa sejarah yang akan melekukan observasi, banyak hal yang terjadi diantaranya ada yang sibuk dengan perlengkapan yang dibawa, ada juga yang sibuk berfoto-foto, masih menguap.

Sebelum berangkat kami melakukan ceremony sambil menunggu rekan kami yang masih berada di perjalanan, kami menggunakan 3 mobil diantaranya : 2 mobil yang disewakan melalui pihak panitia pelaksana  dan 1 mobil pinjaman dari kampus STKIP. Dan kebetulan saya dan rekan saya ikut dengan mobil STKIP bersama 2 dosen atau pembimbing, kami berangkat paling akhir karena sambil menunggu rekan kami yang tertinggal.

Setelah berjalan beberapa menit kami berpapasan dengan rekan kami yang tertinggal itu, dan bertepatan pukul 07.49 WIB kami pun berhenti di Pom bensin sambil membuka perbekalan dan berangkat kembali. Banyak hal yang kami alami selama diperjalanan yaitu dengan terjebak macet yang lumayan panjang karena adanya kereta api lewat.

Selama perjalanan saya dan rekan yang lain membuka perbekalan sambil bercerita kesana kemari entah apa yang kita bicarakan. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di Pom Balaraja kami pun heran dan bertanya-tanya “masa sih ngisi bensin lagi” dan ternyata karena mobil yang di tumpangi rekan kami berhenti dengan alasan ada yang ingin buang air kecil.

Perjalanan pun menjadi kurang seru karena setelah terjadi sesuatu yang tidak enak di ceritakan teman semobil saya pun pada tepar (tidur).

Hanya saya yang tersisa atau tidak tidur, saya pun menghubungi rekan saya yang berbeda dengan mobil yang ditumpangi dan ternyata sama saja semuanya tertidur kecuali penunjuk jalan “peta kali “. Dan saya pun kesepian “ lebay banget deh “ terpaksa saya pun menghabiskan makanan mereka tidak sampai habis sih “ hahhahaa nyam nyam nyamm” akhirnya teman saya pun bangun karena lapar dan dia pun menghabiskan perbekalanya kemudian tidur lagi.

Dan setelah perbekalan habis kami pun merasa lapar kebetulan waktu itu pas jam makan siang dan akhirnya kami mencari-cari pedagang baso dan akhirnya bertemulah dengan pedagang baso yang menyelamatkan kami “lebaaayy” waktu itu bertepatan pada pukul 13.00 WIB dan ternyata sebenarnya pedagang baso itu dekat tapi tidak begitu dekat dengan penginapan kami, setelah se Jam selesai makan baso kami pun sampai di penginapan yaitu di apartemen mewah hotel berbintang lima “ menghayal “ tapi sebenarnya di rumah saudaranya rekan kami tepat pukul 14.05 WIB dan setelah sepuluh menit berlangsung kami pun dijamu dengan suguhan hidangan yang katanya makan siang yang sudah di masak pagi hari karena keterlambatan kami sampai disana penyebabnya adalah macet ya walaupun makanannya udah dingin ya orang lapar gimana ya habis juga ternyata.

Kami pun diberi arahan oleh dosen pembimbing sambil bersantai santai tepat pada pukul 14.17 WIB kami disana di suruh atau ditugaskan untuk mengenali peradaban di daerah penginapan dengan tujuan memperbandingkan dengan daerah kami seperti apa dan bagaimana, pada pukul 15.41 WIB kami pun langsung menemui warga dan melakukan interaksi tanya jawab bagaimana kehidupan di daerah itu karena banyak hal unik terutama pada perairan irigasi yang berada disitu yang digunakan masyarakat setempat untuk mandi,mencuci,memancing.

Kami penasaran air yang seperti itu ko bisa di gunakan sebagai yang sudah saya sebutkan tadi dan banyak pertanyaan apakah tidak apa-apa apalagi yang mencuci itu anak kecil.

 Saya pun melakukan tanya jawab dengan ibu entah saya lupa lagi namanya siapa alasan mereka mandi dan melakukan hal lainnya di situ karena dengan alasan air yang mereka punya atau air yang berada di kamar mandi mereka terasa asin jadi jika di pakai mandi terasa lengket dan untuk minum mereka membeli air mineral, dan alasan kenapa ibu itu atau anak kecil di biarkan mencuci pada umur yang masih kecil karena bertujuan untuk mendidik mereka supaya tidak manja dan hal lainnya.

Setelah kami melakukan pengenalan peradaban di daerah tersebut karena kami merasa lelah dan hari semakin sore, kami pun bergegas menuju penginapan dan sesampinya dipenginapan kami pun langsung mengantri mandi dan solat serta makan malam dan beristirahat setelah kami beristirahat kira-kira pukul 19.45 WIB kami melakukan diskusi atau melaporkan temuan kami yang tadi siang kami lakukan yaitu pengenalan peradaban tersebut. Dan pada pukul 21.54 kami pun merapikan diri untuk siap-siap memejamkan mata atau tidur.

Pagi hari yang indah dan susana yang dingin karena penginapan kami terletak di dekat pesawahan yang luas udaranya pun asri menimbulkan kenyamanan untuk tetap berbaring ditempat tidur “eiitsss bangun”. Bertepatan pada pukul 04.50 WIB sayapun bangun dan tadinya saya mau langsung mandi dan ternyata mengantri akhirnya saya tidur lagi dan bangun pada pukul 05.20 WIB saya langsung mandi dan pukul 05.30 saya melakukan sembahyang subuh.

Dan pada pukul 06.00 WIB kami pun makan pagi atau sarapan sambil membereskan atau mempersiapkan alat-alat observasi dan sekaligus diberi arahan terlebih dahulu oleh dosen pembimbing, pemberangkatan ke situs pun di lakukan pada pukul 06.46 selama perjalanan kami melihat pelangi yang sangat indah yang memberi tambahan semangat pagi untuk saya melakukan observasi yang di tujukan pada tujuan utama yaitu musium terlebih dahulu dan melihat dan mengenal candi-candi yang berasal dari batu jaya karawang.

Sesampainya kami di moseum ternyata moesiumnya belum di buka terpaksa kami menunggu dan setelah kami masuk dan sempat berfoto dan mendokumentasikannya kami melakukan ceremony yaitu penyerahan cendera mata sebagai kenang-kenangan dari kami dan memberikan slayer baduy bertepatan didepan moseum.

Setelah acara penyerahan cendera mata kami pun melihat lihat apa saja yang berada di moseum, kami banyak melihat peninggalan-peninggalan bersejarah di sana.

Saya sempat heran kenapa benda-benda yang rusak ini di simpan dan tidak boleh di pegang dan lainya padahal kan barang-barang yang berada disana pada rusak. “Eh eh  eits bukan sembarang benda ya!! yang disimpan di moseum itu”

Di museum itu terdapat temuan-temuan artefak yang berupa keramik, gerabah, fosil tulang binatang replica kepala arca manusia dan binatang, manik-manik kaca dan tanah liat dan berbagai bentuk bata pada zaman dahulu.

Tau gk sih Gedung Museum pada awalnya diperuntukkan sebagai Gedung Penyelamatan Situs Batujaya Kabupaten Karawang yang dibangun sejak tahun 2002 hingga 2004 dan masa Penataan 2 tahun (2005-2006). Namun kemudian berupaya dikembangkan sebagai museum meski masih dalam standar minimal hingga akhirnya  diresmikan pada bulan Oktober 2006 oleh Denny Setiawan, Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Setelah kami melihat-lihat museum kami langsung melakukan pemetaan yang dibantu oleh dosen pembimbing yang ditujukan kepada candi yang akan kami telusuri.

Setelah selesai melakukan pemetaan kami pun mengikuti pak narto dia akan memperlihatkan candi-candi yang berada disana.

Sebelum kita mengenal jauh bentuk candi dan lainya kita harus mengetahui apa itu candi? Candi berasal dari kata “Candika” yang artinya nama salah satu Dewa kematian (Durga). Candi adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa.

Yang akan di bahas disini adalah candi yang berada di karawang diantaranya candi damar yaitu gundukan tanah ( unur / bukit kecil) yang belum di ekskavasi ,tapi mungkin sekarang sudah d ekskavasi karena menurut pak narto akan di lakukan pada tanggal 2 dan 3 januari 2014.

Setelah melihat candi damar saya dan rekan yang lain melakukan penelusuran menuju situs candi jiwa yang konon penamaanya  berawal dari warga setempat yang memberi nama jiwa yaitu dahulunya di daerah itu bertepatan di candi jiwa sebelum di ekskavasi terlihat atau berbentuk bukit kecil atau unur yang di manfaatkan warga setempat sebagai tempat pengungsian jika terjadi banjir dan ketika itu ada warga yang mengamankan hewan ternaknya yaitu kambing yang di tambatkan di unur itu dan tak lama kemudian kambing itu mati dan warga sekitar berpikiran unur atau bukit itu menginginkan nyawa atau jiwa maka warga setempat menamainya unur jiwa dan kemudian setelah di ekskavasi di temukan candi persis di tempat itu dan kemudian diberi nama candi jiwa. Bangunan yang berukuran ini tidak mempunyai tangga masuk struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Ketika umat Budha melakukan ritual di tempat ini mereka mengelilingi atau mengitari candi seperti arah putaran jam. Dan saya beserta rekan saya pada waktu itu melihat bekas bunga-bunga yang katanya malam sebelum kami melakukan observasi ada yang telah melakukan ritual pemujaan. Dan ada juga mitos entah itu benar atau tidak warga setempat jika mengadakan pesta kenduri barang-barang atau alat-alat seperti piring pinjam ke candi jiwa tersebut.

Kemudian setelah kami selesai menguak rasa penasaran kami terhadap candi jiwa dan kami pun bergegas melanjutkan penelusuran ke candi Blandongan adapun bentuk candi blandongan seperti gambar di bawah ini.

 Di candi blandongan berbeda dengan candi jiwa perbedaannya sangat jelas candi Blandongan mempunyai empat pintu masuk yang berbentuk tangga dan ada juga bentuk dari candi blandongan itu ialah bujur sangkar, di atas candi blandongan konon katanya di gunakan tempat meminta restu dari kedua orangtua untuk menjalankan pernikahan selain itu juga candi blandongan juga biasa di pakai tempat peribadatan umat hindu. Dan di bagian luar candi ada tempat duduk atau di kelilingi batu besar konon katanya tempat pemujaan.

Setelah dari candi blandongan walaupun panas menyengat dan ditambah rasa haus yang berlebihan kami tetap melanjutkan penelusuran dengan canda tawa dibawah terik matahari yang panasnya sampai menusuk tulang dan kami tetap berjalan sambil menahan rasa panas walaupun badan kita terbakar di tambah lagi kobaran api semangat dari diri kami “wawww lebay”.

Candi selanjutnya yang kami tuju ialah candi serut kami disana menemukan 2 candi yang disebut candi serut A dan candi serut B.

Candi serut A biasa digunakan sebagai pensucian diri atau pencucian jiwa sedangkan pada Candi serut B di gunakan sebagai pemujaan.

Dengan rasa lelah kami tetap melakukan penelusuran kesitus lainnya diantaranya Situs Candi Sumur padahal candi itu bukan lah candi sumur di duga itu adalah pondasi candi yang belum jadi karena bentuknya seperti genangan air atau batuan tenggelam maka warga setempat menyebutnya candi sumur seperti pada gambar di samping, Kemudian kami melakukan penelusuran selanjutnya yaitu kami menemukan 3 lingga yang berada di tempat yang berbeda 2 lingga terdapat persis berdekatan dengan sebuah kuburan dan yang satunya lagi hampir tidak terlihat karena posisinya hampir jatuh kepesawahan karena camera yang saya gunakan batrei nya habis jadi saya tidak mendapatkan gambar situs lingga tersebut dan kebetulan rekan saya pun tidak mengambil gambar situs lingga yang berada di daerah karawang jawa barat.

Kemudian kami pun memutar arah kembali untuk bergegas menuju penginapan dan melewati candi sebelumnya akan tetapi ternyata ada candi yang terlewat oleh kami dan kami pun penasaran dengan candi terakhir yang terlewat oleh kami itu ternyata ada mitos tertentu yang terdapat pada candi itu, candi itu bernama candi lempeng yang berupa sumur konon jika mandi atau mencuci muka di sumur itu kita akan terlihat awet muda “ wooooooooooowwwwww awet muda” kami pun tapi hanya sebagian berlarian ingin mencuci muka di sumur itu. Dan ada diantara kami membekal air itu untuk dibawa pulang , Yang saya herankan kenapa air di sumur itu sangat dingin dan tidak terasa asin seperti sumur yang berada di daerah itu padahal lokasi itu yang paling dekat dengan laut.

Selain itu ada juga mitos katanya sumur itu seperti sumur harapan entah seperti apa cara kerjanya tapi jika kita datang kesumur itu dan meminta suatu harapan maka harapan kita terkabul. “wowwwwww ko bisa yaa”

Kira-kira pukul 14.50 WIB kami bergegas pulang ke penginapan dengan rasa campur aduk “ Es campur kali campur aduk” ada rasa senang cape dan hal lainya.

Setelah sampai di penginapan kami pun beristirahat ISHOMA (istirahat solat makan ) sambil berbincang-bincang dan seru-seruan.

Kami pun di kumpulkan kembali untuk melakukan briefing  dengan rasa lelahpun karena istirahatnya kurang maksimal.

Dan kami di tujukan untuk menampilkan hasil observasi kami dengan perkelompok yang sudah dibagikan dengan rasa yang sebenarnya semua orang juga merasakan kepenatan itu tiap dari masing masing kelompok menampilkan hasilnya. Dan jika ada yang sudah kebagian mempresentasikan atau menuggu bagian kelompoknya dipanggil kami sekalian tukar-tukar foto serta menyelesaikan lembar kerja atau merapikan lembar kerja serta catatan perjalanan.

Setelah acara itu selesai kami sepakat pada hari dan waktu itu dan malam itu untuk kembali pulang ke Rangkasbitung dengan alasan agar tidak terjebak macet sedang berdiskusipun kami sibuk dengan mempersiapkan barang-barang untuk pulang kami tidak memikirkan apapun yang kami pikirkan hanya ingin pulang “ takut di tinggalin, mungkin”. Dan ada juga yang sibuk menunggu pesanan oleh-oleh yang sudah di pesan.


Setelah kami berkemas-kemas kamipun pamitan kepada warga yang berada di sekitar tempat kami menginap dan masih melek untuk pamit, selama perjalanan tidak terasa ternyata hujan awalnya saya tidak bisa tidur akan tetapi karena merasa lelah dan udaranya yang sangat dingin tidak terasa saya pun ikut tidur. Ketika diperjalanan entah dimana mobil kami berhenti saya pun terbangun dan setelah itu saya pun tertidur kembali tak terasa sesampainya di kampus STKIP dan kamipun pergi ke habitat masing-masing “ hahaha hewan kali”.

Kamis, 17 Oktober 2013

Sejarah Kampung Awilega Pandeglang-Banten



Kenapa daerah yang saya tinggali dinamakan awilega? Karena berasal dari bahasa setempat atau bahasa yang suka saya gunakan yaitu Awina lega dan di namakan Awilega yang artinya pohon bambu yang sangat luas.

Jadi di daerah itu terdapat tanah seluas 4 hektar yang konon banyak pohon bambu yang menjulang tinggi dan tidak ada satupun penduduk yang tinggal disana. Disana pun tidak ada pohon lain kecuali pohon bambu sehingga tempat itu menjadi gelap dan tidak ada satupun yang berani kesana.

Pada tahun 1958 ada dua orang kepala keluaraga yaitu H.Sarwan dan H.Jasmara(alm) merupakan penghuni awal dari kampung Awilega yang konon dahulunya itu kampung Awilega adalah sebuah hutan belantara yang terdapat pohon bambu seperti yang saya sudah paparkan disana tidak ada satupun pohon dan pada waktu itu tanah itu masih merupakan tanah Negara.

Awalnya kedua kepala keluarga itu memasuki hutan itu dengan tujuan bercocok tanam, bertani, baik ladang maupun sawah.

Dari kedua kepala keluarga itu lah yang memberi nama Awilega.Dan pada tahun 1963 mulai berdatangan untuk tinggal d kampung Awilega ini dari berbagai daerah diantaranya Bandung, Subang, Cirebon dan indramayu adapun tujuannya adalah untuk membuka lahan pertanian.

Pada saat ini Awilega terbagi 3 ampian yaitu Awilega Kidul (bagian selatan), Awilega Tengah (bagian tengah), Awilega Kaler (bagian Utara) yang terdiri dari 350 KK (kepala keluarga).



Sumber :

· Sesepuh kampung Awilega

· Mantan Kepala Desa terdahulu

· Badan data keluarga desa

Kamis, 26 September 2013

REIS VER HALLEN BANTEN LAMA


Pada waktu itu kami semester satu diwajibkan melakukan observasi atau perjalanan ke Banten lama sebelumnya beberapa hari sebelum pemberangkatan kami terlebih dahulu di beritahu dan diberi arahan–arahan untuk memperlancar kegiatan tersebut.

Pada tanggal 15 September 2013 itulah hari pemberangkatan kami awalnya kami sepakat pemberangkatan menggunakan kendaraan sepeda motor dan berangkat pada pukul 07.00 WIB akan tetapi karena menunggu sahabat-sahabat yang belum hadir maka  pemberangkatan itu di mulai pada pukul 08.30 WIB. Banyak hal yang kami lewati diantaranya dengan rute-rute yang sebenarnya asing buat saya karena saya tidak mengetahui dimana,sampai mana,daerah mana,yang penting sampai tujuan bahasa sundanya rek dimana rek dimana nu penting geura datang.

Dan ketika sampai di Serang kalau tidak salah saya dan tiga motor lainnya terpisah dari rombongan, kita lebih jauh didepan daripada yang lain. Kami pun mencari rombongan dengan cara memutar balik tapi kearah yang sama akan tetapi hasilnya nihil muter-muter yang ada. Ketika kami berhenti sejenak sambil menuggu yang lain tiba-tiba rombongan itu datang dan  setelah itu ya Alhamdulillah nyasar ternyata tujuan kami bukan ke tempat itu.

Dan akhirnya kami pun sampai di Banten lama kira-kira pukul 10.30 dan ternyata mengecewakan museumnya dalam masa perbaikan sampai bulan desember. Tapi itu tidak membuat kita patah semangat karena di luar museumnya masih ada hal yang penting untuk kita lihat dan kita ketahui terutama buat dokumentasi diantaranya meriam dll. Setelah kami melakukan istirahat sejenak sambil di antaranya ada yang makan,foto-foto dan berbagai hal lainnya kami pun di suruh kumpul kembali untuk melihat-lihat dan mencari informasi tentang Banten lama.

Dan pada pukul 10.58 WIB kami menerima pengetahuan dari pemandu yang bernama Pak Mulankasa dan ia pun memaparkan sejarah Banten Lama dari awal berdiri sampai sekarang dan setelah mendengarkan saya pun sedikit lebih tahu di bandingkan sebelumnya. Sebenarnya saya bukan yang pertama kalinya mengunjungi tempat itu akan tetapi saya belum mengetahui ternyata di tempat itu bukan hanya di pakai untuk berjiarah akan tetapi di tempat itu masih banyak hal yang perlu di perhatikan dan di ketahui masih ada peninggalan yang lain seperti kejadian-kejadian yang terjadi di tempat itu pada masa itu khususnya oleh masyarakat di Provinsi Banten.

Saya dan sahabat-sahabat yang lain pun melihat-lihat hal apa saja yang berada di Banten khususnya di Benteng Surosoan di sana pun terdapat banyak peninggalan-peninggalan yang belum saya ketahui sebelumnya. Saya pun seakan-akan merasakan sedang berada di masa itu ketika saya melihat-lihat pondasi bangunan itu ( Lebay ). 

Akan tetapi menurut saya sangat di sayangkan tempat itu seperti kurang terurus. Dan banyak orang-orang diantaranya berenang di kolam yang menurut saya itu adalah kolam yang sangat bersejarah seharusnya kolam itu d rawat dan di jaga supaya tidak sembarang orang meggunakan tempat itu karena tempat itu memiliki nilai sejarah yang sangat penting.

Saat saya mendengarkan cerita dari pemandu rasa lapar, haus, pegel dan ingin pulang menjadi satu ( entah gimana rasanya ). Ketika selesai mendengarkan kami pun berfoto-foto, beristirahat, dan bersembahyang duhur dan makan waktu itu kira-kira pukul 12.24 WIB.

Kami pun mengakhiri kegiatan dan pulang pada pukul 14.30 WIB dan selama perjalanan kita kebanjiran sampah yang baunya sangat menusuk hidung. Kami pun tiba di kampus pukul 16.30 WIB.
Banyak hal yang kami lewati mulai dari awal pemberangkatan hingga pulang. Hal itu tidak mungkin kami lupakan karena menurut saya pribadi kekeluargaan dan kebersamaannya mulai terjadi dan mudah-mudahan selamanya akan seperti itu.


Kegiatan yang kami lakukan itu bukan hanya bermain-main dan bersenang-senang akan tetapi kami di beri tugas individu dan kelompok. Dimana tugas individunya itu membuat cerita perjalanan dan tugas kelompoknya membuat laporan perjalanan dan membuat video yang harus di kumpulkan seminggu setelah perjalanan. Dan inilah hasil tugas individu saya.