Sabtu, 23 Januari 2016

Laporan



“Ada Apa di Ciampea”
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Arkeologi
Dosen Pengampu : Neli Wachyudin S.S



Disusun oleh :
Wili Wilastri (4322313030002)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU DAN PENDIDIKAN
(STKIP)
SETIA BUDHI RANGKASBITUNG
Januari ,2016

Kata Pengantar
Puji syukur kita limpahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , karena dengan karunianya kita semua bisa menyelesaikan tugas mata kuliah pengantar arkeologi ini dengan sebaik-baiknya.
Saya pribadi sebagai penyusun telah menyelesaikan tugas mata kuliah arkeologi ini untuk memenuhi UAS mata kuliah pengantar arkeologi dengan bertemakan situs atau peninggalan sejarah di Ciampea dan dengan judul Kepedulian Masyarakat Daerah Sekitar Situs-Situs Di Ciampea.
Adapun banyak kesulitan yang saya hadapi ialah kesulitan mencari sumber teori dan sumber lainya seperti buku dan lainya, akan tetapi itu tidak membuat saya surut untuk menyelesaikan tugas ini.
Semoga dalam adanya tugas ini pembaca dapat sedikit mengetahui tentang situs-situs yang di ciampea.


BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar Belakang
Kabupaten Bogor banyak memiliki kekayaan pariwisata, salah satunya wisata sejarah yang banyak terdapat di daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bogor, Seperti di Daerah Tujuan Wisata Bogor Barat yang mempunyai banyak kekayaan seni dan budaya. Wisata sejarah yang ada di antaranya merupakan peninggalan zaman prasejarah, yaitu Batu Tulis Ciaruteun. Terletak di tepi sungai Ciaruteun perbatasan Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Cibungbulang.
Pada lokasi Batu Tulis Ciaruteun ini terdapat pula peninggalan sejarah lainnya seperti: Prasasti Kebon Kopi I, yang terdapat telapak kaki gajah Airwata, sebagai kendaraan Raja Purnawarman, lalu Prasasti Kebon Kopi II, yang letaknya berada di sungai dan terdapat tulisan bahasa sansekerta berhuruf pallawa. Ada juga peninggalan sejarah lainnya seperti: Batu Dakon, Prasasti Jambu, Garisul dan Kampung Adat Urug yang merupakan kekayaan Kabupaten Bogor yang tak ternilai harganya.
Ciampea adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, yang terdiri dari 13 kelurahan/desa. Wilayah ini terkenal pada masa lalu (dengan sebutan lamanya Tjampea) karena adanya ekosistem yang khas berupa perbukitan kapur, serta aneka peninggalan purbakala; kini sebagian wilayah itu termasuk dalam Kecamatan Cibungbulang.
Pusat Kecamatan Ciampea terletak di Desa Bojongrangkas, di tepi jalan utama Bogor - Jasinga - Tigaraksa (Jalan Nasional Rute 11), dekat percabangan menuju bukit kapur Ciampea. Lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan transportasi umum (angkot) dari Terminal Bubulak atau Terminal Laladon di Kota Bogor jurusan ke Ciampea, Leuwiliang, atau Jasinga.
Wilayah Ciampea merupakan pintu untuk menuju beberapa lokasi wisata seperti Gunung Salak Endah (wisata alam), Bukit Kapur Ciampea (wisata olahraga panjat tebing), dan petilasan purbakala di Ciaruteun (wisata sejarah). Potensi wisata yang dimiliki Kecamatan Ciampea sendiri adalah Kampung Wisata Cinangneng di Desa Cihideung Udik, yang menyediakan atraksi wisata suasana pedesaan, seperti aktivitas menanam dan memanen padi, membajak sawah dan atraksi hiburan kesenian tradisional Sunda bagi wisatawan.
    II.            Tinjauan pustaka
Menurut catatan sejarah, di jawa barat terdapat sebuah kerajaan yang bernama Taruma (Tarumanegara). Disebabkan sumber-sumber sejarahnya masih sangat sedikit hingga sekarang kisah kerajaan trauma masih sangat fragmentaris , bertumpu pada beberapa sumber berupa sejumlah prasasti, tinggalan arkeologis dan berita cina yang juga masih samar-samar.
Melalui sumber-sumber tersebut, dapat diketahui bahwa kerajaan trauma berkembang pada abad ke- 5 sampai 8 M. Berdasarkan tempat prasasti dan tinggalan arkeologi lain yang diidentifikasikan sebagai tinggalan dari  masa kerajaan trauma , dapat diduga bahwa kerajaan ini memiliki wilayah yang luasnya meliputi sebagian besar jawa barat. Temuan-temuan tersebut tersebar diwilayah-wilayah kabupaten karawang , Bekasi, Bogor, Pandeglang, dan wilayah DKI Jakarta.
Berita tertua yang dianggap membicarakan kerajaan Taruma adalah berita Cina yang berasal dari Fa Hsien. Berita ini terdapat dalam laporan perjalanan yang ditulis  Fa Hsien pada tahun 414 M, berjudul Fo-Kuo-chi. Dalam buku ini di kisahkan perjalanan Fa Hsien dari Cina Ke india melalui Ceylon. Diceritakan pula keadaan di Ya-wa-di dimana ia tinggal selama lima bulan, setelah kapal  yang ditumpanginya dari Ceylon mendapat kerusakan dan terdampar di Ya-Wa-Di. Oleh goeneveldt, ya-wa-di ini di-hubung-kan dengan Ya-wa-da yang dalam sejarah dinasti sung disebutkan rajanya yang bernama S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo; pada tahun 435 M mengirimkan utusanya ke negeri cina
Rouffaer dan Moens menghubungkan Ya-wa-di ini dengan jawa (yawadipa). Mereka mengidentifikasi dengan Taruma. Di dalam berita Cina ,kerajaan Taruma  sejak dinasti Soui (abad ke-6 M) dan dynasi Tang (abad ke-7 M) disebut To-lo-mo, sedangkan S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo diidentifikasi dengan Sri Purnawarman (Rouffaer, 1905:Moens 1937).
Berita Cina yang menyebutkan adanya sebuah kerajaan bernama To-lo-mo (Taruma) dan rajanya bernama S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo (sri Purnawarman), memang bersesuaian dengan isi prasasti-prasasti Raja Purnawarman dari kerajaan Taruma. Prasasti-prasasti tersebut diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5.
 III.            Metode penelitian
Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dalam sebuah penelitian sejarah kerap sekali mahasiswa sejarah melakukan penelitian dengan beberapa metode diantaranya Heuristik,Kritik sumber,interpretasi dan Historiografi.
Sjamsuddin (2007: 14) mengartikan metode sejarah sebagai suatu cara bagaimana mengetahui sejarah.
Menurut Kuntowijoyo (1994: xii), metode sejarah merupakan petunjuk khusus tentang bahan, kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah.
Menurut Sukardi (2003: 203) penelitian sejarah adalah salah satu penelitian mengenai pengumpulan dan evaluasi data secara sistematik, berkaitan dengan kejadian masa lalu untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan faktor-faktor penyebab, pengaruh atau perkembangan kejadian yang mungkin membantu dengan memberikan informasi pada kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang.
Kesimpulan yang dapat diambil peneliti dari beberapa pengertian tersebut adalah bahwa metode sejarah merupakan proses penelitian terhadap sumber-sumber masa lampau yang dilakukan secara kritis-analitis dan sistematis dengan akhir kontruksi imajinasi yang disajikan secara tertulis.
 IV.            Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan cerita, persepsi, dan penggunaan terhadap peninggalan masa purbakala yang terdapat di Kecamatan Ciampea, Bogor Jawa Barat. Pula untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar Arkeologi.
    V.            Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian ini bertempat di Kampung Ciaruteun Hilir, Desa Cibungbulang, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat
 VI.            Objek Penelitian
Objek Penelitian ini adalah sebagai berikut :
·         Prasasti Batu Telapak Gajah Kebon Kopi I
·         Prasasti Batu Tulis Ciaruteun
·         Prasasti Batu Muara Cianten
·         Situs Batu Dakon
VII.            Kondisi Alam dan Masyarakat Daerah Penelitian
   Kondisi umum daerah penelitian berupa daerah perbukitan dan dataran rendah. Lahan yang ada digunakan untuk pemukiman, persawahan, perkebunan, dan hutan. Daerah penelitian dilewati oleh jalan propinsi yang menuju Kabupaten Lebak Propinsi Banten, selain itu jalan antar desa berupa jalan aspal, jalan berbatu, dan jalan setapak. Mata pencaharian masyarakat setempat umumnya adalah petani, pedagang, penambang, supir, dan buruh. Di daerah penelitian terdapat kawasan penambangan batu gamping yang pada mulanya berupa pabrik kapur, namun telah lama pailit dan pada akhirnya hanya menjadi penambangan rakyat biasa.  Kondisi singkapan di daerah penelitian cukup beragam, dimana dapat ditemukan singkapan dalam jarak dekat sampai sedang, lapuk sampai agak lapuk, dan menerus sampai tidak menerus.
VIII.            Bahasa
Bahasa di daerah penelitian adalahh bahasa sunda yang termasuk kepada kelompok bahasa sunda kasar. Terlihat dari keseharian penduduk setempat apabila berinteraksi dengan yang lebih tua atau muda selalu menggunakan kata akhiran “heueuh”. Kata tersebut jika di dalam bahasa sunda termasuk ke dalam golongan sunda kasar karena tidak memiliki tingkatan bahasa seperti bahasa Sunda yang lazim digunakan di bumi priangan. Bahasa di daerah penelitian sedikit mirip dengan bahasa sunda Banten. Perbedaan yang mencolok dengan bahasa sunda Banten hanya terletak di bagian Intonasi pengucapan dan aksen bahasa. Kejadian seperti ini dipengaruhi oleh pola aliran sungai yang melintasi daerah tersebut.










BAB II
Deskripsi Situs
1.      Prasasti Muara Cianten
(Pak Tata) Batu tulis terdapat di kali cisadane (badan dan tulisan ) sejajar dan searah atau sejarah ,batu tulisan. Ditemukan oleh orangtua dari pak tata, batu itu terdapat di zaman prasejarah, batu tulis yang mengandung arti yang padat batu itu bertulisan bahasa saka seketemunya atau sakapanggihna. Karena pada waktu itu tidak ada tulisan , berkomunikasi menggunakan bahasa symbol atau siloka misal Ingin menulis rumah maka ia menggambar rumah maka dari itu tulisan inipun tidak bisa dibaca.
Pemimpin yang berada dipulau jawalah yang menuliskan sejarah batu tulis. Menurut cerita penemu batu tulis ini konon dari orang cina, hal yang di paparkan oleh pak tata mendapat sumber dari orang tuanya cerita , jadi cerita turun temurun,
Adapun didaerah ini tidak ada sangkut pautnya dengan mitos, di kali cisadane hanya terdapat satu jenis batu yang bertulis batu tulis ini juga terdapat pada zaman hewan yang bisa bicara.
Selama 25 tahunlah bapak ini mengurus batu ini dalam pembuatan jalan, adapun alasanya ialah karena kebetulan batu tulis ini (prasasti muara cianten) bertepatan dekat dengan tanah pak tata.
Hasil yang didapat selain sumber cerita dari Pak Tata (penjaga situs atau yang mempunyai lahan dekat Prasasti  Muara Cianten).
Situs Muara Cianten terletak di sungai muara cianten disitus ini terdapat sebuah tulisan yang menurut sumber hasil wawancara menggunakan tulisan Saka adapun tulisan itu terdapat pada sebuah batu besar , ketinggian batu yang diukur didasar tanah dengan menggunakan mistar skalasi 10 cm dan dengan lebar 1,50 m dan panjang 3 m.
    

Peninggalan Sejarah Ini Disebut Prasasti Karena Memang Ada Goresan Tetapi Merupakan Pahatan Gambar Sulur-Suluran (Pilin) Atau Ikal Yang Keluar Dari Umbi. Prasasti ini pertamakali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.
Di sebelah timur muara cianten terdapat 5 buah menhir yang pertama dengan titik koordinat 26 ° LU  dengan tinggi 39 cm dan lebar 30 cm.
Dari kiri ke kanan

Kemudian arca yang kedua yang bentuknya berbeda dengan yang pertama dengan lebar 47 cm dan tinggi 35 cm dengan titik koordinat  30° LU, yang kemudian menhir yang selanjutnya ialah sekilas seperti tumpukan batu yang dengan titik koordinat 40 ° LU dengan tinggi 24 cm dan lebar 41 cm, dan menhir yang selanjutnya dengn titik koordinat 49 ° LU dengan tinggi 62 cm dan lebar 26 cm.
Dan terakhir dengan titik koordinat 43 ° LU dengan tinggi 65 cm dan lebar 46 cm/
2.      Batu Dakon
Di dalam cungkup Batu Dakon terdapat dua buah batu dakon, dan tiga buah menhir kecil. Salah satu batu berbentuk tidak beraturan dan kasar dengan lubang berjumlah belasan berukuran besar kecil. Sedangkan batu dakon yang kedua berbentuk lebih teratur dan halus serta terbuat dari batu hitam yang teksturnya terlihat lebih baik.
Batu dakon telah dijadikan tempat sebagai penanggalan atau itung-itungan waktu oleh kerajaan sunda, akan tetapi setelah masa kerajjan sunda dikuasai oleh purnawarman dakon ini dipakai sebagai pemujaan arwah leluhur yang pada waktu itu system kepercayaan animisme dan dinamisme,Di situs batu dakon ini terdapat 3 menhir dan 2 dakon menhir yang paling tinggi berada di titik koordinat 40 ° LU yang mengarah k arca dengan ketinggian 74,5 cm dari permukaan tanah, (menurut pak atma karena dari permukaan tanah sampai kebawah terdapat 1 m) dan memiliki lebar 28 cm jenis menhir ini merupakan zaman yang memiliki konstruktur jenis batu halus.
Dekat dengan menhir yang paling tinggi tadi terdapat sebuah dakon yang berkonstruktur halus yang berbentuk lingkaran dan memiliki lubang yang terlihat sebanyak 10 dan tidak terlihat sebanyak 26 jadi total keseluruhan adalah 36 pas dengan 360 hari dalam setahun.
Dakon halus ini tidak memiliki ketinggian yang sama dalam satu lingkaran itu, akan tetapi memiliki ketinggian di sebelah utara lebih tinggi disbanding yag lain yang telah kami ukur memiliki ketinggian 10 cm dan lebar 77,5 cm.
dalam dakon itu terdapat beberapa lubang yang terlihat dengan kedalaman 10,5 cm dan lebar 6 cm.




dekat dengan dakon halus terdapat pula dakon kasar yang memiliki 5 lubang yang terlihat dengan lebar 77,5 cm dan lebar lubang dakon yang paling terlihat ialah 5 cm dan dengan kedalaman 8,9 cm.
Batu yang hamper tak Nampak ini karena alas dan dakon ini memiliki struktur yang kasar maka kami kesulitan menentukan ketinggian dari dakon kasar ini.
Kemudian tidak jauh hanya beberapa cm dari batu kasar terdapat menhir yang memiliki ketinggian 46 cm dengan titik koordinat 26 ° LU mengarah ke arca,batu ini berstruktur kasar dibandingkan dengan batu yang pertama yang lebih tinggi dari batu yang pertama , batu ini pun tegak tidak seperti batu halus yang pertama.
Dalam prasasti dakon terdapat pula batu yang tak beraturan batu yang Nampak pertama kali kita lihat jika pertama kali masuk ke bangunan prasasti dakon yang dekat dengan pintu keluar dibandingkan dengan yang lain
Memiliki ketinggian 26,4 cm dan lebar 42 cm batu yang tak beraturan ini memiliki ukuran panjang 50 cm.
3.      Prasasti Ciaruten
Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari empat baris dan pada bagian atas tulisan terdapat pahatan sepasang telapak kaki, gambar umbi dan sulur-suluran (pilin) dan laba-laba.
Teks:

vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam


Terjemahan:
“Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.
Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya prasasti tersebut. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Dalam situs ini terdapat batu besar yang berhasil kami ukur dengan ukuran dan titik koordinat 48 ° LU dari arah batu dakon dan 42 ° LS mengarah ke selatan.
Dengan tinggi 146 cm.

Pada prasasti Ciaruten ini atau biasa di sebut batu tulis ini Nampak atas terlihat foto diambil dari atas menggunakan monopod dengan panjang 216,5 cm dan memiliki lebar 166 cm, selain itu juga kami mengukur telapak kaki yang berada di batu prasasti dengan ukuran kaki yang berbeda kaki kanan yang berhasil kami ukur kaki kanan dengan panjang dari tumit ke jempol 24,5 cm dan dari jari kelinking ke jempol 12,7 cm sedangkan kai kiri memiliki panjang 25,5 dengan lebar dr jari kelingking ke jari jempol 12,2 cm.
Batu ini dahulu berada di sungai ciaruten yang menurut cerita batu ini dipindahkan sedikit demi sedikit oleh sebuah tambang yang di ikatkan ke sebuah pohon besar yang merupakan saksi hidup dari awal batu itu sa,pai batu itu pindah ke tempat yang sekarang.
4.      Kebon Kopi I
Prasasti Kebonkopi I ditemukan di Kampung Muara (kini termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor) pada abad ke-19, ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Oleh karena itu prasasti ini disebut Prasasti Kebonkopi I. Hingga saat ini prasasti tersebut masih berada di tempatnya ditemukan (in situ).
Prasasti Kebonkopi I (dinamakan demikian untuk dibedakan dari Prasasti Kebonkopi II) atau Prasasti Tapak Gajah (karena terdapat pahatan tapak kaki gajah) merupakan salah satu peninggalan kerajaan Tarumanagara.
Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang disusun ke dalam bentuk seloka metrum Anustubh yang diapit sepasang pahatan gambar telapak kaki gajah.
Teks:
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam

Terjemahan:
“Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”.
Dalam mitologi Hindu, Airawata adalah nama seekor gajah putih, wahana Dewa Indra. Airawata merupakan putera dari Irawati, salah satu puteri Daksa. Dalam mitologi Hindu sering digambarkan bahwa Airawata ditunggangi oleh Indra yang membawa senjata Bajra, sambil membasmi makhluk jahat. Menurut mitologi Hindu, Airawata merupakan salah satu gajah penjaga alam semesta. Ia dianggap sebagai pemimpin para gajah.
 
Prassati kebon Kopi I  ini memiliki tinggi 69,5 cm dengan lebar 111 cm dan panjang 200 cm yang berada pada titik koordinat 48 ° LU dan 48 ° LS.










BAB III
Tinjauan Arkeologi

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuno" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Teknik penelitian yang khas adalah penggalian arkeologi penggalian, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan panjang. Di antaranya adalah apa yang disebut paradigma arkeologi, yang menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta memahami proses perubahan budaya.
Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, ilmu ini termasuk ke dalam kelompok humaniora. Meskipun demikian, ada berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain, sejarah, antropologi, geologi untuk ilmu membentuk lapisan bumi adalah referensi umur relatif dari arkeologi temuan, geografi, arsitektur, paleoantropologi dan bioantropologi, fisika, antara lain , dengan karbon C-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak, ilmu metalurgi untuk mendapatkan unsur-unsur benda logam, serta filologi mempelajari naskah kuno.
Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metoda pengukuran karbon 14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba, meneliti DNAnya.
Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture).
Karena bergantung pada benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi (Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).
Arkeologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lalu melaluli bukti-bukti fisik yang ditinggalkan oleh orang-orang pada zaman dahulu. Hal ini meliputi artefak-artefak kecil, contohnya seperti mata panah yang digunakan untuk membuat bangunan besar seperti piramida. Dan hal-hal lainnya yang dibuat atau dimodifikasi oleh orang-orang pada zaman dahulu adalah bagian dari catatan arkeologi.
Para Arkeolog menggunakan sisa-sisa peninggalan ini untuk memahami dan menciptakan kembali semua aspek-aspek dari budaya masa lalu, dari kehidupan sehari-hari orang biasa sampai dengan kaisar-kaisar agung. Seringkali, objek-objek ini terkubur dan harus sangat berhati-hati dalam menggali sebelum mereka dapat mempelajarinya. Dalam banyak kasus, hanya ada beberapa petunjuk yang mereka temukan untuk menolong mereka dalam merekonstruksi ulang kehidupan orang-orang kuno. Objek-objek yang ditemukan ini seperti potongan-potongan kecil dari puzzle raksasa yang mereka harus pecahkan.
Arkeologi membantu kita untuk menghargai dan melestarikan warisan orang-orang pada zaman dahulu. Memberitahu kita tentang masa lalu, membantu kita dalam memahami dari mana kita berasal, dan menunjukan kepada kita bagaimana orang-orang pada masa lalu hidup dan menghadapi tantangan, dan mengembangkannya kepada masyarakat luas apa yang kita punya sekarang.







BAB IV
Manfaat Arkeologi Bagi Pembelajaran Sejarah

Sejarah tidak hanya dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi kelompak masyarakat. Sejarah dapat menjadi sumber inspirasi atau memberikan ilham bagi masyarakat lain untuk bangkit dari keterpurukan. Contohnya peristiwa kemenangan jepang atas rusia telah menumbuhkan inspirasi dan semangat bagi negara-negara Asia untuk bangkit menentang penjajahan bangsa Barat. Peristiwa lainnya yaitu Revolusi Perancis yang telah memberikan inspirasi bagi negara-negara lain untuk menempatkan hukum sebagai kekuasaan tertinggi.
Mempelajari sejarah akan dapat memberikan unsur ketrampilan bagi yang mempelajarinya, misalnya ketika kita mempelajari bagaimana nenek moyang kita membuat api maka cara-cara yang dilakukan nenek moyang itu dapat kita contoh hari ini. Begitu juga ketika nenek moyang kita membuat kerajinan logam, itupun bisa kita contoh hari ini.Jadi pada hakekatnya apa yang ada hari ini merupakan produk masa lalu.
Maka dengan kita mengetahui ilmu arkeologi kita bisa mengetahui suatu kebenaran sejarah yang mengenai benda-benda peninggalan zaman dulu yang bersifat ppermanen yang disakralkan oleh para peneliti sebeagai sebuah peninggalan sejarah. Karena peristiwa sejarah  yang meninggalkan benda-benda sejarah tidak akan jauh dari suatu penelitian arkeologi karena memiliki nilai  penting dalam upaya menggambarkan atau memotret keadaan masa lalu sehingga dapat menghasilkan dan menjadikan refleksi pembelajaran  masyarakat sekarang.











BAB V
KESIMPULAN

Dalam penulisan ini dapat di pahami bahwa situs arkeologi di ciampea merupakan sebuah situs yang melambangkan perjalanan seorang raja purnawarman yang  ada di beberapa titik di ciampea bogor salah satunya ada situs batu tulis ciaruten, dimana situs ciaruten merupakan situs yang melambangkan kekuasaan seorang raja purnawarman di daerah jawa barat itu terbukti dengan adanya dua telapak kaki purnawarman yang berada di situs ciaruten, selain prasasti ciaruten terdapat juga beberapa situs yang telah di terangkan di atas.
Peninggalan-peninggalan kerajaan tarumengara ini lah yang menjadi sebuah informasi dan pengetahuan bagi yang hanya mengetahui dari sumber bacaan tanpa terjun langsung ke tempatnya, karena dengan adanya peninggalan-peninggalan ini menjadi sebuah bukti sejarah yang tak bisa di palsukan dengan adanya pendapat-pendapat yang berbeda.
Penggunaan situs-situs mengakibatkan beberapa isu muncul oleh karena itu banyak sekali perbedaan dan persamaan dalam arti yang berkaitan dengan situs-situs.
Kita dapat melihat bahwa peninggalan-peninggalan memiliki arti yang sangat penting bagi beberapa golongan dalam masyarakat disekitaran situs.














DAFTAR PUSTAKA


Selasa, 24 Maret 2015

MONEY



UANG KERTAS DARI MASA KEMASA
Oleh : Wili Wilastri
Awalnya saya tidak tahu sejak kapan uang itu menjadi sumber kebutuhan manusia apalagi penggunaan uang kertas, pada zaman dahulu melakukan transaksi itu menggunakan uang logam kemudian setelah adanya perlawanan pattimura terdapatlah uang kertas, eits tapi sebelumnya ada juga loh uang kertas senilai 500 rupiah, setelah saya  mengunjungi musium Bank Indonesia ternyata dugaan saya salah, uang kertas ternyata sudah ada pada zaman kolonial dengan dibuktikanya terdapat beberapa uang kertas yang terdapat dimusium itu yang awalnya saya kira uang kertas pertama adalah uang senilai 500 rupiah ternyata 1 rupiah pun ada percaya gak?harus dong ! kalau tidak percaya berkunjunglah kemusium Bank Indonesia.
Sedikit nih saya akan mengulas menurut wikipedia “Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.
Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal satu sen dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks UUD 1945. ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.
Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Yogyakarta pada 1 Januari 1947, Seri ORI III di Yogyakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Yogyakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta pada 1 Januari 1950.
Meski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di daerah pedalaman, seperti di Yogyakarta , Surakarta, dan Malang.

Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatera yang beredar adalah mata uang Jepang. Pada 8 April 1947 Gubernur Provinsi Sumatera mengeluarkan rupiah URIPS-Uang Republik Indonesia Provinsi Sumatera.
Nah kan ternyata uang pertama itu senilai satu sen, kalau sekarang buat beli apa ya uang senilai satu sen ! tidak kebayang satu sen mungkin pada waktu itu bisa dipakai untuk membeli apapun.
Apakah kalian pernah bertanya pada orangtua kalian atua kakek nenek tentang uang zaman dulu kalaua saya sih uang kertas belum pernah melihat dan memegang langsung akan tetapi uang koin kakek nenek saya masih punya waktu saya berumur ya masih 15 kebawah lah , dulu sih saya pakai buat maen-maen sampe ilang tuh uang.
Kalian mungkin belum pernah melihat uang kertas yang dulu, saya masih menjumpai loh uang yang seharga 500 rupiah yang itu tuh adak kakek moyang kamu eits !! jangan marah becanda kok. Uang senilai 500 rupiah itu uang jajan saya pas kelas 3 SD loh bisa buat beli nasi uduk dan jajanan es lainya tapi sekarang yakin kalian mau dikasih uang 500 kesekolah bisa pake apa ya?? Begitulah perkembangan zaman uang 100.000 rupiah pun bisa dua hari habis bahkan satu hari.

Coretanku



HARAPAN
by.WILI WILASTRI

Aku berdiri di 9 meter tepat disebelah rel kereta…
penuh ilalang yang sedang berbunga putih bersih tanpa noda,,,
kurentangkan tanganku dan ku tadahkan kepala dan ku pejamkan mata…
mataharipun menyambut menghangatkan tubuhku…
kurasakan hangatnya matahari rasanya tak ingin berlalu…
Tak terasa hari sudah petang rasa sedih pun datang..
Tapi ku tetap semangat ..
Dalam hati ku berkata “ esok matahari ini pun akan kembali seperti yang telah kurasakan yaitu selalu menghangatkanku “ kataku menghibur diri…
Ternyata aku salah matahari kemarin tak seindah matahari hari ini..
Hari ini awanpun gelap...
Matahari terbit dan kemudian menghilang..
Hanya ada halilintar menyambar yang membuat hatiku enggan untuk mengingat hal indah itu bersama matahari..
Kini halilintar membuatku sadar matahari tak akan selamanya menemani, menghangatkan , serta membakar semangatku hingga berkobar-kobar..
Memang sulit membuang kenangan itu tapi apadaya halilintar menutup ingatanku..
Dan ku berharap  matahari yang terganti oleh halilintar kemudian berubah menjadi pelangi yang indah.

Minggu, 23 Maret 2014

Nyukcruk Galur Mapay Laratan Tapak Karuhun "Edisi Karawang"



Pada tanggal 20 Desember 2013 udara yang sangat dingin karena musim penghujan bertepatan pada pukul 07.36 WIB di depan kampus STKIP yang ramai oleh mahasiswa sejarah yang akan melekukan observasi, banyak hal yang terjadi diantaranya ada yang sibuk dengan perlengkapan yang dibawa, ada juga yang sibuk berfoto-foto, masih menguap.

Sebelum berangkat kami melakukan ceremony sambil menunggu rekan kami yang masih berada di perjalanan, kami menggunakan 3 mobil diantaranya : 2 mobil yang disewakan melalui pihak panitia pelaksana  dan 1 mobil pinjaman dari kampus STKIP. Dan kebetulan saya dan rekan saya ikut dengan mobil STKIP bersama 2 dosen atau pembimbing, kami berangkat paling akhir karena sambil menunggu rekan kami yang tertinggal.

Setelah berjalan beberapa menit kami berpapasan dengan rekan kami yang tertinggal itu, dan bertepatan pukul 07.49 WIB kami pun berhenti di Pom bensin sambil membuka perbekalan dan berangkat kembali. Banyak hal yang kami alami selama diperjalanan yaitu dengan terjebak macet yang lumayan panjang karena adanya kereta api lewat.

Selama perjalanan saya dan rekan yang lain membuka perbekalan sambil bercerita kesana kemari entah apa yang kita bicarakan. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di Pom Balaraja kami pun heran dan bertanya-tanya “masa sih ngisi bensin lagi” dan ternyata karena mobil yang di tumpangi rekan kami berhenti dengan alasan ada yang ingin buang air kecil.

Perjalanan pun menjadi kurang seru karena setelah terjadi sesuatu yang tidak enak di ceritakan teman semobil saya pun pada tepar (tidur).

Hanya saya yang tersisa atau tidak tidur, saya pun menghubungi rekan saya yang berbeda dengan mobil yang ditumpangi dan ternyata sama saja semuanya tertidur kecuali penunjuk jalan “peta kali “. Dan saya pun kesepian “ lebay banget deh “ terpaksa saya pun menghabiskan makanan mereka tidak sampai habis sih “ hahhahaa nyam nyam nyamm” akhirnya teman saya pun bangun karena lapar dan dia pun menghabiskan perbekalanya kemudian tidur lagi.

Dan setelah perbekalan habis kami pun merasa lapar kebetulan waktu itu pas jam makan siang dan akhirnya kami mencari-cari pedagang baso dan akhirnya bertemulah dengan pedagang baso yang menyelamatkan kami “lebaaayy” waktu itu bertepatan pada pukul 13.00 WIB dan ternyata sebenarnya pedagang baso itu dekat tapi tidak begitu dekat dengan penginapan kami, setelah se Jam selesai makan baso kami pun sampai di penginapan yaitu di apartemen mewah hotel berbintang lima “ menghayal “ tapi sebenarnya di rumah saudaranya rekan kami tepat pukul 14.05 WIB dan setelah sepuluh menit berlangsung kami pun dijamu dengan suguhan hidangan yang katanya makan siang yang sudah di masak pagi hari karena keterlambatan kami sampai disana penyebabnya adalah macet ya walaupun makanannya udah dingin ya orang lapar gimana ya habis juga ternyata.

Kami pun diberi arahan oleh dosen pembimbing sambil bersantai santai tepat pada pukul 14.17 WIB kami disana di suruh atau ditugaskan untuk mengenali peradaban di daerah penginapan dengan tujuan memperbandingkan dengan daerah kami seperti apa dan bagaimana, pada pukul 15.41 WIB kami pun langsung menemui warga dan melakukan interaksi tanya jawab bagaimana kehidupan di daerah itu karena banyak hal unik terutama pada perairan irigasi yang berada disitu yang digunakan masyarakat setempat untuk mandi,mencuci,memancing.

Kami penasaran air yang seperti itu ko bisa di gunakan sebagai yang sudah saya sebutkan tadi dan banyak pertanyaan apakah tidak apa-apa apalagi yang mencuci itu anak kecil.

 Saya pun melakukan tanya jawab dengan ibu entah saya lupa lagi namanya siapa alasan mereka mandi dan melakukan hal lainnya di situ karena dengan alasan air yang mereka punya atau air yang berada di kamar mandi mereka terasa asin jadi jika di pakai mandi terasa lengket dan untuk minum mereka membeli air mineral, dan alasan kenapa ibu itu atau anak kecil di biarkan mencuci pada umur yang masih kecil karena bertujuan untuk mendidik mereka supaya tidak manja dan hal lainnya.

Setelah kami melakukan pengenalan peradaban di daerah tersebut karena kami merasa lelah dan hari semakin sore, kami pun bergegas menuju penginapan dan sesampinya dipenginapan kami pun langsung mengantri mandi dan solat serta makan malam dan beristirahat setelah kami beristirahat kira-kira pukul 19.45 WIB kami melakukan diskusi atau melaporkan temuan kami yang tadi siang kami lakukan yaitu pengenalan peradaban tersebut. Dan pada pukul 21.54 kami pun merapikan diri untuk siap-siap memejamkan mata atau tidur.

Pagi hari yang indah dan susana yang dingin karena penginapan kami terletak di dekat pesawahan yang luas udaranya pun asri menimbulkan kenyamanan untuk tetap berbaring ditempat tidur “eiitsss bangun”. Bertepatan pada pukul 04.50 WIB sayapun bangun dan tadinya saya mau langsung mandi dan ternyata mengantri akhirnya saya tidur lagi dan bangun pada pukul 05.20 WIB saya langsung mandi dan pukul 05.30 saya melakukan sembahyang subuh.

Dan pada pukul 06.00 WIB kami pun makan pagi atau sarapan sambil membereskan atau mempersiapkan alat-alat observasi dan sekaligus diberi arahan terlebih dahulu oleh dosen pembimbing, pemberangkatan ke situs pun di lakukan pada pukul 06.46 selama perjalanan kami melihat pelangi yang sangat indah yang memberi tambahan semangat pagi untuk saya melakukan observasi yang di tujukan pada tujuan utama yaitu musium terlebih dahulu dan melihat dan mengenal candi-candi yang berasal dari batu jaya karawang.

Sesampainya kami di moseum ternyata moesiumnya belum di buka terpaksa kami menunggu dan setelah kami masuk dan sempat berfoto dan mendokumentasikannya kami melakukan ceremony yaitu penyerahan cendera mata sebagai kenang-kenangan dari kami dan memberikan slayer baduy bertepatan didepan moseum.

Setelah acara penyerahan cendera mata kami pun melihat lihat apa saja yang berada di moseum, kami banyak melihat peninggalan-peninggalan bersejarah di sana.

Saya sempat heran kenapa benda-benda yang rusak ini di simpan dan tidak boleh di pegang dan lainya padahal kan barang-barang yang berada disana pada rusak. “Eh eh  eits bukan sembarang benda ya!! yang disimpan di moseum itu”

Di museum itu terdapat temuan-temuan artefak yang berupa keramik, gerabah, fosil tulang binatang replica kepala arca manusia dan binatang, manik-manik kaca dan tanah liat dan berbagai bentuk bata pada zaman dahulu.

Tau gk sih Gedung Museum pada awalnya diperuntukkan sebagai Gedung Penyelamatan Situs Batujaya Kabupaten Karawang yang dibangun sejak tahun 2002 hingga 2004 dan masa Penataan 2 tahun (2005-2006). Namun kemudian berupaya dikembangkan sebagai museum meski masih dalam standar minimal hingga akhirnya  diresmikan pada bulan Oktober 2006 oleh Denny Setiawan, Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Setelah kami melihat-lihat museum kami langsung melakukan pemetaan yang dibantu oleh dosen pembimbing yang ditujukan kepada candi yang akan kami telusuri.

Setelah selesai melakukan pemetaan kami pun mengikuti pak narto dia akan memperlihatkan candi-candi yang berada disana.

Sebelum kita mengenal jauh bentuk candi dan lainya kita harus mengetahui apa itu candi? Candi berasal dari kata “Candika” yang artinya nama salah satu Dewa kematian (Durga). Candi adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa.

Yang akan di bahas disini adalah candi yang berada di karawang diantaranya candi damar yaitu gundukan tanah ( unur / bukit kecil) yang belum di ekskavasi ,tapi mungkin sekarang sudah d ekskavasi karena menurut pak narto akan di lakukan pada tanggal 2 dan 3 januari 2014.

Setelah melihat candi damar saya dan rekan yang lain melakukan penelusuran menuju situs candi jiwa yang konon penamaanya  berawal dari warga setempat yang memberi nama jiwa yaitu dahulunya di daerah itu bertepatan di candi jiwa sebelum di ekskavasi terlihat atau berbentuk bukit kecil atau unur yang di manfaatkan warga setempat sebagai tempat pengungsian jika terjadi banjir dan ketika itu ada warga yang mengamankan hewan ternaknya yaitu kambing yang di tambatkan di unur itu dan tak lama kemudian kambing itu mati dan warga sekitar berpikiran unur atau bukit itu menginginkan nyawa atau jiwa maka warga setempat menamainya unur jiwa dan kemudian setelah di ekskavasi di temukan candi persis di tempat itu dan kemudian diberi nama candi jiwa. Bangunan yang berukuran ini tidak mempunyai tangga masuk struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Ketika umat Budha melakukan ritual di tempat ini mereka mengelilingi atau mengitari candi seperti arah putaran jam. Dan saya beserta rekan saya pada waktu itu melihat bekas bunga-bunga yang katanya malam sebelum kami melakukan observasi ada yang telah melakukan ritual pemujaan. Dan ada juga mitos entah itu benar atau tidak warga setempat jika mengadakan pesta kenduri barang-barang atau alat-alat seperti piring pinjam ke candi jiwa tersebut.

Kemudian setelah kami selesai menguak rasa penasaran kami terhadap candi jiwa dan kami pun bergegas melanjutkan penelusuran ke candi Blandongan adapun bentuk candi blandongan seperti gambar di bawah ini.

 Di candi blandongan berbeda dengan candi jiwa perbedaannya sangat jelas candi Blandongan mempunyai empat pintu masuk yang berbentuk tangga dan ada juga bentuk dari candi blandongan itu ialah bujur sangkar, di atas candi blandongan konon katanya di gunakan tempat meminta restu dari kedua orangtua untuk menjalankan pernikahan selain itu juga candi blandongan juga biasa di pakai tempat peribadatan umat hindu. Dan di bagian luar candi ada tempat duduk atau di kelilingi batu besar konon katanya tempat pemujaan.

Setelah dari candi blandongan walaupun panas menyengat dan ditambah rasa haus yang berlebihan kami tetap melanjutkan penelusuran dengan canda tawa dibawah terik matahari yang panasnya sampai menusuk tulang dan kami tetap berjalan sambil menahan rasa panas walaupun badan kita terbakar di tambah lagi kobaran api semangat dari diri kami “wawww lebay”.

Candi selanjutnya yang kami tuju ialah candi serut kami disana menemukan 2 candi yang disebut candi serut A dan candi serut B.

Candi serut A biasa digunakan sebagai pensucian diri atau pencucian jiwa sedangkan pada Candi serut B di gunakan sebagai pemujaan.

Dengan rasa lelah kami tetap melakukan penelusuran kesitus lainnya diantaranya Situs Candi Sumur padahal candi itu bukan lah candi sumur di duga itu adalah pondasi candi yang belum jadi karena bentuknya seperti genangan air atau batuan tenggelam maka warga setempat menyebutnya candi sumur seperti pada gambar di samping, Kemudian kami melakukan penelusuran selanjutnya yaitu kami menemukan 3 lingga yang berada di tempat yang berbeda 2 lingga terdapat persis berdekatan dengan sebuah kuburan dan yang satunya lagi hampir tidak terlihat karena posisinya hampir jatuh kepesawahan karena camera yang saya gunakan batrei nya habis jadi saya tidak mendapatkan gambar situs lingga tersebut dan kebetulan rekan saya pun tidak mengambil gambar situs lingga yang berada di daerah karawang jawa barat.

Kemudian kami pun memutar arah kembali untuk bergegas menuju penginapan dan melewati candi sebelumnya akan tetapi ternyata ada candi yang terlewat oleh kami dan kami pun penasaran dengan candi terakhir yang terlewat oleh kami itu ternyata ada mitos tertentu yang terdapat pada candi itu, candi itu bernama candi lempeng yang berupa sumur konon jika mandi atau mencuci muka di sumur itu kita akan terlihat awet muda “ wooooooooooowwwwww awet muda” kami pun tapi hanya sebagian berlarian ingin mencuci muka di sumur itu. Dan ada diantara kami membekal air itu untuk dibawa pulang , Yang saya herankan kenapa air di sumur itu sangat dingin dan tidak terasa asin seperti sumur yang berada di daerah itu padahal lokasi itu yang paling dekat dengan laut.

Selain itu ada juga mitos katanya sumur itu seperti sumur harapan entah seperti apa cara kerjanya tapi jika kita datang kesumur itu dan meminta suatu harapan maka harapan kita terkabul. “wowwwwww ko bisa yaa”

Kira-kira pukul 14.50 WIB kami bergegas pulang ke penginapan dengan rasa campur aduk “ Es campur kali campur aduk” ada rasa senang cape dan hal lainya.

Setelah sampai di penginapan kami pun beristirahat ISHOMA (istirahat solat makan ) sambil berbincang-bincang dan seru-seruan.

Kami pun di kumpulkan kembali untuk melakukan briefing  dengan rasa lelahpun karena istirahatnya kurang maksimal.

Dan kami di tujukan untuk menampilkan hasil observasi kami dengan perkelompok yang sudah dibagikan dengan rasa yang sebenarnya semua orang juga merasakan kepenatan itu tiap dari masing masing kelompok menampilkan hasilnya. Dan jika ada yang sudah kebagian mempresentasikan atau menuggu bagian kelompoknya dipanggil kami sekalian tukar-tukar foto serta menyelesaikan lembar kerja atau merapikan lembar kerja serta catatan perjalanan.

Setelah acara itu selesai kami sepakat pada hari dan waktu itu dan malam itu untuk kembali pulang ke Rangkasbitung dengan alasan agar tidak terjebak macet sedang berdiskusipun kami sibuk dengan mempersiapkan barang-barang untuk pulang kami tidak memikirkan apapun yang kami pikirkan hanya ingin pulang “ takut di tinggalin, mungkin”. Dan ada juga yang sibuk menunggu pesanan oleh-oleh yang sudah di pesan.


Setelah kami berkemas-kemas kamipun pamitan kepada warga yang berada di sekitar tempat kami menginap dan masih melek untuk pamit, selama perjalanan tidak terasa ternyata hujan awalnya saya tidak bisa tidur akan tetapi karena merasa lelah dan udaranya yang sangat dingin tidak terasa saya pun ikut tidur. Ketika diperjalanan entah dimana mobil kami berhenti saya pun terbangun dan setelah itu saya pun tertidur kembali tak terasa sesampainya di kampus STKIP dan kamipun pergi ke habitat masing-masing “ hahaha hewan kali”.

Kamis, 17 Oktober 2013

Sejarah Kampung Awilega Pandeglang-Banten



Kenapa daerah yang saya tinggali dinamakan awilega? Karena berasal dari bahasa setempat atau bahasa yang suka saya gunakan yaitu Awina lega dan di namakan Awilega yang artinya pohon bambu yang sangat luas.

Jadi di daerah itu terdapat tanah seluas 4 hektar yang konon banyak pohon bambu yang menjulang tinggi dan tidak ada satupun penduduk yang tinggal disana. Disana pun tidak ada pohon lain kecuali pohon bambu sehingga tempat itu menjadi gelap dan tidak ada satupun yang berani kesana.

Pada tahun 1958 ada dua orang kepala keluaraga yaitu H.Sarwan dan H.Jasmara(alm) merupakan penghuni awal dari kampung Awilega yang konon dahulunya itu kampung Awilega adalah sebuah hutan belantara yang terdapat pohon bambu seperti yang saya sudah paparkan disana tidak ada satupun pohon dan pada waktu itu tanah itu masih merupakan tanah Negara.

Awalnya kedua kepala keluarga itu memasuki hutan itu dengan tujuan bercocok tanam, bertani, baik ladang maupun sawah.

Dari kedua kepala keluarga itu lah yang memberi nama Awilega.Dan pada tahun 1963 mulai berdatangan untuk tinggal d kampung Awilega ini dari berbagai daerah diantaranya Bandung, Subang, Cirebon dan indramayu adapun tujuannya adalah untuk membuka lahan pertanian.

Pada saat ini Awilega terbagi 3 ampian yaitu Awilega Kidul (bagian selatan), Awilega Tengah (bagian tengah), Awilega Kaler (bagian Utara) yang terdiri dari 350 KK (kepala keluarga).



Sumber :

· Sesepuh kampung Awilega

· Mantan Kepala Desa terdahulu

· Badan data keluarga desa