Sabtu, 23 Januari 2016

Laporan



“Ada Apa di Ciampea”
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Arkeologi
Dosen Pengampu : Neli Wachyudin S.S



Disusun oleh :
Wili Wilastri (4322313030002)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU DAN PENDIDIKAN
(STKIP)
SETIA BUDHI RANGKASBITUNG
Januari ,2016

Kata Pengantar
Puji syukur kita limpahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , karena dengan karunianya kita semua bisa menyelesaikan tugas mata kuliah pengantar arkeologi ini dengan sebaik-baiknya.
Saya pribadi sebagai penyusun telah menyelesaikan tugas mata kuliah arkeologi ini untuk memenuhi UAS mata kuliah pengantar arkeologi dengan bertemakan situs atau peninggalan sejarah di Ciampea dan dengan judul Kepedulian Masyarakat Daerah Sekitar Situs-Situs Di Ciampea.
Adapun banyak kesulitan yang saya hadapi ialah kesulitan mencari sumber teori dan sumber lainya seperti buku dan lainya, akan tetapi itu tidak membuat saya surut untuk menyelesaikan tugas ini.
Semoga dalam adanya tugas ini pembaca dapat sedikit mengetahui tentang situs-situs yang di ciampea.


BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar Belakang
Kabupaten Bogor banyak memiliki kekayaan pariwisata, salah satunya wisata sejarah yang banyak terdapat di daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bogor, Seperti di Daerah Tujuan Wisata Bogor Barat yang mempunyai banyak kekayaan seni dan budaya. Wisata sejarah yang ada di antaranya merupakan peninggalan zaman prasejarah, yaitu Batu Tulis Ciaruteun. Terletak di tepi sungai Ciaruteun perbatasan Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Cibungbulang.
Pada lokasi Batu Tulis Ciaruteun ini terdapat pula peninggalan sejarah lainnya seperti: Prasasti Kebon Kopi I, yang terdapat telapak kaki gajah Airwata, sebagai kendaraan Raja Purnawarman, lalu Prasasti Kebon Kopi II, yang letaknya berada di sungai dan terdapat tulisan bahasa sansekerta berhuruf pallawa. Ada juga peninggalan sejarah lainnya seperti: Batu Dakon, Prasasti Jambu, Garisul dan Kampung Adat Urug yang merupakan kekayaan Kabupaten Bogor yang tak ternilai harganya.
Ciampea adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, yang terdiri dari 13 kelurahan/desa. Wilayah ini terkenal pada masa lalu (dengan sebutan lamanya Tjampea) karena adanya ekosistem yang khas berupa perbukitan kapur, serta aneka peninggalan purbakala; kini sebagian wilayah itu termasuk dalam Kecamatan Cibungbulang.
Pusat Kecamatan Ciampea terletak di Desa Bojongrangkas, di tepi jalan utama Bogor - Jasinga - Tigaraksa (Jalan Nasional Rute 11), dekat percabangan menuju bukit kapur Ciampea. Lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan transportasi umum (angkot) dari Terminal Bubulak atau Terminal Laladon di Kota Bogor jurusan ke Ciampea, Leuwiliang, atau Jasinga.
Wilayah Ciampea merupakan pintu untuk menuju beberapa lokasi wisata seperti Gunung Salak Endah (wisata alam), Bukit Kapur Ciampea (wisata olahraga panjat tebing), dan petilasan purbakala di Ciaruteun (wisata sejarah). Potensi wisata yang dimiliki Kecamatan Ciampea sendiri adalah Kampung Wisata Cinangneng di Desa Cihideung Udik, yang menyediakan atraksi wisata suasana pedesaan, seperti aktivitas menanam dan memanen padi, membajak sawah dan atraksi hiburan kesenian tradisional Sunda bagi wisatawan.
    II.            Tinjauan pustaka
Menurut catatan sejarah, di jawa barat terdapat sebuah kerajaan yang bernama Taruma (Tarumanegara). Disebabkan sumber-sumber sejarahnya masih sangat sedikit hingga sekarang kisah kerajaan trauma masih sangat fragmentaris , bertumpu pada beberapa sumber berupa sejumlah prasasti, tinggalan arkeologis dan berita cina yang juga masih samar-samar.
Melalui sumber-sumber tersebut, dapat diketahui bahwa kerajaan trauma berkembang pada abad ke- 5 sampai 8 M. Berdasarkan tempat prasasti dan tinggalan arkeologi lain yang diidentifikasikan sebagai tinggalan dari  masa kerajaan trauma , dapat diduga bahwa kerajaan ini memiliki wilayah yang luasnya meliputi sebagian besar jawa barat. Temuan-temuan tersebut tersebar diwilayah-wilayah kabupaten karawang , Bekasi, Bogor, Pandeglang, dan wilayah DKI Jakarta.
Berita tertua yang dianggap membicarakan kerajaan Taruma adalah berita Cina yang berasal dari Fa Hsien. Berita ini terdapat dalam laporan perjalanan yang ditulis  Fa Hsien pada tahun 414 M, berjudul Fo-Kuo-chi. Dalam buku ini di kisahkan perjalanan Fa Hsien dari Cina Ke india melalui Ceylon. Diceritakan pula keadaan di Ya-wa-di dimana ia tinggal selama lima bulan, setelah kapal  yang ditumpanginya dari Ceylon mendapat kerusakan dan terdampar di Ya-Wa-Di. Oleh goeneveldt, ya-wa-di ini di-hubung-kan dengan Ya-wa-da yang dalam sejarah dinasti sung disebutkan rajanya yang bernama S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo; pada tahun 435 M mengirimkan utusanya ke negeri cina
Rouffaer dan Moens menghubungkan Ya-wa-di ini dengan jawa (yawadipa). Mereka mengidentifikasi dengan Taruma. Di dalam berita Cina ,kerajaan Taruma  sejak dinasti Soui (abad ke-6 M) dan dynasi Tang (abad ke-7 M) disebut To-lo-mo, sedangkan S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo diidentifikasi dengan Sri Purnawarman (Rouffaer, 1905:Moens 1937).
Berita Cina yang menyebutkan adanya sebuah kerajaan bernama To-lo-mo (Taruma) dan rajanya bernama S’ri Pa-da-do-a-la-pa-mo (sri Purnawarman), memang bersesuaian dengan isi prasasti-prasasti Raja Purnawarman dari kerajaan Taruma. Prasasti-prasasti tersebut diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-5.
 III.            Metode penelitian
Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dalam sebuah penelitian sejarah kerap sekali mahasiswa sejarah melakukan penelitian dengan beberapa metode diantaranya Heuristik,Kritik sumber,interpretasi dan Historiografi.
Sjamsuddin (2007: 14) mengartikan metode sejarah sebagai suatu cara bagaimana mengetahui sejarah.
Menurut Kuntowijoyo (1994: xii), metode sejarah merupakan petunjuk khusus tentang bahan, kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah.
Menurut Sukardi (2003: 203) penelitian sejarah adalah salah satu penelitian mengenai pengumpulan dan evaluasi data secara sistematik, berkaitan dengan kejadian masa lalu untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan faktor-faktor penyebab, pengaruh atau perkembangan kejadian yang mungkin membantu dengan memberikan informasi pada kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang.
Kesimpulan yang dapat diambil peneliti dari beberapa pengertian tersebut adalah bahwa metode sejarah merupakan proses penelitian terhadap sumber-sumber masa lampau yang dilakukan secara kritis-analitis dan sistematis dengan akhir kontruksi imajinasi yang disajikan secara tertulis.
 IV.            Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan cerita, persepsi, dan penggunaan terhadap peninggalan masa purbakala yang terdapat di Kecamatan Ciampea, Bogor Jawa Barat. Pula untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar Arkeologi.
    V.            Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian ini bertempat di Kampung Ciaruteun Hilir, Desa Cibungbulang, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat
 VI.            Objek Penelitian
Objek Penelitian ini adalah sebagai berikut :
·         Prasasti Batu Telapak Gajah Kebon Kopi I
·         Prasasti Batu Tulis Ciaruteun
·         Prasasti Batu Muara Cianten
·         Situs Batu Dakon
VII.            Kondisi Alam dan Masyarakat Daerah Penelitian
   Kondisi umum daerah penelitian berupa daerah perbukitan dan dataran rendah. Lahan yang ada digunakan untuk pemukiman, persawahan, perkebunan, dan hutan. Daerah penelitian dilewati oleh jalan propinsi yang menuju Kabupaten Lebak Propinsi Banten, selain itu jalan antar desa berupa jalan aspal, jalan berbatu, dan jalan setapak. Mata pencaharian masyarakat setempat umumnya adalah petani, pedagang, penambang, supir, dan buruh. Di daerah penelitian terdapat kawasan penambangan batu gamping yang pada mulanya berupa pabrik kapur, namun telah lama pailit dan pada akhirnya hanya menjadi penambangan rakyat biasa.  Kondisi singkapan di daerah penelitian cukup beragam, dimana dapat ditemukan singkapan dalam jarak dekat sampai sedang, lapuk sampai agak lapuk, dan menerus sampai tidak menerus.
VIII.            Bahasa
Bahasa di daerah penelitian adalahh bahasa sunda yang termasuk kepada kelompok bahasa sunda kasar. Terlihat dari keseharian penduduk setempat apabila berinteraksi dengan yang lebih tua atau muda selalu menggunakan kata akhiran “heueuh”. Kata tersebut jika di dalam bahasa sunda termasuk ke dalam golongan sunda kasar karena tidak memiliki tingkatan bahasa seperti bahasa Sunda yang lazim digunakan di bumi priangan. Bahasa di daerah penelitian sedikit mirip dengan bahasa sunda Banten. Perbedaan yang mencolok dengan bahasa sunda Banten hanya terletak di bagian Intonasi pengucapan dan aksen bahasa. Kejadian seperti ini dipengaruhi oleh pola aliran sungai yang melintasi daerah tersebut.










BAB II
Deskripsi Situs
1.      Prasasti Muara Cianten
(Pak Tata) Batu tulis terdapat di kali cisadane (badan dan tulisan ) sejajar dan searah atau sejarah ,batu tulisan. Ditemukan oleh orangtua dari pak tata, batu itu terdapat di zaman prasejarah, batu tulis yang mengandung arti yang padat batu itu bertulisan bahasa saka seketemunya atau sakapanggihna. Karena pada waktu itu tidak ada tulisan , berkomunikasi menggunakan bahasa symbol atau siloka misal Ingin menulis rumah maka ia menggambar rumah maka dari itu tulisan inipun tidak bisa dibaca.
Pemimpin yang berada dipulau jawalah yang menuliskan sejarah batu tulis. Menurut cerita penemu batu tulis ini konon dari orang cina, hal yang di paparkan oleh pak tata mendapat sumber dari orang tuanya cerita , jadi cerita turun temurun,
Adapun didaerah ini tidak ada sangkut pautnya dengan mitos, di kali cisadane hanya terdapat satu jenis batu yang bertulis batu tulis ini juga terdapat pada zaman hewan yang bisa bicara.
Selama 25 tahunlah bapak ini mengurus batu ini dalam pembuatan jalan, adapun alasanya ialah karena kebetulan batu tulis ini (prasasti muara cianten) bertepatan dekat dengan tanah pak tata.
Hasil yang didapat selain sumber cerita dari Pak Tata (penjaga situs atau yang mempunyai lahan dekat Prasasti  Muara Cianten).
Situs Muara Cianten terletak di sungai muara cianten disitus ini terdapat sebuah tulisan yang menurut sumber hasil wawancara menggunakan tulisan Saka adapun tulisan itu terdapat pada sebuah batu besar , ketinggian batu yang diukur didasar tanah dengan menggunakan mistar skalasi 10 cm dan dengan lebar 1,50 m dan panjang 3 m.
    

Peninggalan Sejarah Ini Disebut Prasasti Karena Memang Ada Goresan Tetapi Merupakan Pahatan Gambar Sulur-Suluran (Pilin) Atau Ikal Yang Keluar Dari Umbi. Prasasti ini pertamakali ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.
Di sebelah timur muara cianten terdapat 5 buah menhir yang pertama dengan titik koordinat 26 ° LU  dengan tinggi 39 cm dan lebar 30 cm.
Dari kiri ke kanan

Kemudian arca yang kedua yang bentuknya berbeda dengan yang pertama dengan lebar 47 cm dan tinggi 35 cm dengan titik koordinat  30° LU, yang kemudian menhir yang selanjutnya ialah sekilas seperti tumpukan batu yang dengan titik koordinat 40 ° LU dengan tinggi 24 cm dan lebar 41 cm, dan menhir yang selanjutnya dengn titik koordinat 49 ° LU dengan tinggi 62 cm dan lebar 26 cm.
Dan terakhir dengan titik koordinat 43 ° LU dengan tinggi 65 cm dan lebar 46 cm/
2.      Batu Dakon
Di dalam cungkup Batu Dakon terdapat dua buah batu dakon, dan tiga buah menhir kecil. Salah satu batu berbentuk tidak beraturan dan kasar dengan lubang berjumlah belasan berukuran besar kecil. Sedangkan batu dakon yang kedua berbentuk lebih teratur dan halus serta terbuat dari batu hitam yang teksturnya terlihat lebih baik.
Batu dakon telah dijadikan tempat sebagai penanggalan atau itung-itungan waktu oleh kerajaan sunda, akan tetapi setelah masa kerajjan sunda dikuasai oleh purnawarman dakon ini dipakai sebagai pemujaan arwah leluhur yang pada waktu itu system kepercayaan animisme dan dinamisme,Di situs batu dakon ini terdapat 3 menhir dan 2 dakon menhir yang paling tinggi berada di titik koordinat 40 ° LU yang mengarah k arca dengan ketinggian 74,5 cm dari permukaan tanah, (menurut pak atma karena dari permukaan tanah sampai kebawah terdapat 1 m) dan memiliki lebar 28 cm jenis menhir ini merupakan zaman yang memiliki konstruktur jenis batu halus.
Dekat dengan menhir yang paling tinggi tadi terdapat sebuah dakon yang berkonstruktur halus yang berbentuk lingkaran dan memiliki lubang yang terlihat sebanyak 10 dan tidak terlihat sebanyak 26 jadi total keseluruhan adalah 36 pas dengan 360 hari dalam setahun.
Dakon halus ini tidak memiliki ketinggian yang sama dalam satu lingkaran itu, akan tetapi memiliki ketinggian di sebelah utara lebih tinggi disbanding yag lain yang telah kami ukur memiliki ketinggian 10 cm dan lebar 77,5 cm.
dalam dakon itu terdapat beberapa lubang yang terlihat dengan kedalaman 10,5 cm dan lebar 6 cm.




dekat dengan dakon halus terdapat pula dakon kasar yang memiliki 5 lubang yang terlihat dengan lebar 77,5 cm dan lebar lubang dakon yang paling terlihat ialah 5 cm dan dengan kedalaman 8,9 cm.
Batu yang hamper tak Nampak ini karena alas dan dakon ini memiliki struktur yang kasar maka kami kesulitan menentukan ketinggian dari dakon kasar ini.
Kemudian tidak jauh hanya beberapa cm dari batu kasar terdapat menhir yang memiliki ketinggian 46 cm dengan titik koordinat 26 ° LU mengarah ke arca,batu ini berstruktur kasar dibandingkan dengan batu yang pertama yang lebih tinggi dari batu yang pertama , batu ini pun tegak tidak seperti batu halus yang pertama.
Dalam prasasti dakon terdapat pula batu yang tak beraturan batu yang Nampak pertama kali kita lihat jika pertama kali masuk ke bangunan prasasti dakon yang dekat dengan pintu keluar dibandingkan dengan yang lain
Memiliki ketinggian 26,4 cm dan lebar 42 cm batu yang tak beraturan ini memiliki ukuran panjang 50 cm.
3.      Prasasti Ciaruten
Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari empat baris dan pada bagian atas tulisan terdapat pahatan sepasang telapak kaki, gambar umbi dan sulur-suluran (pilin) dan laba-laba.
Teks:

vikkrantasyavanipat eh
srimatah purnnavarmmanah
tarumanagarendrasya
visnoriva padadvayam


Terjemahan:
“Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.
Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya prasasti tersebut. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Dalam situs ini terdapat batu besar yang berhasil kami ukur dengan ukuran dan titik koordinat 48 ° LU dari arah batu dakon dan 42 ° LS mengarah ke selatan.
Dengan tinggi 146 cm.

Pada prasasti Ciaruten ini atau biasa di sebut batu tulis ini Nampak atas terlihat foto diambil dari atas menggunakan monopod dengan panjang 216,5 cm dan memiliki lebar 166 cm, selain itu juga kami mengukur telapak kaki yang berada di batu prasasti dengan ukuran kaki yang berbeda kaki kanan yang berhasil kami ukur kaki kanan dengan panjang dari tumit ke jempol 24,5 cm dan dari jari kelinking ke jempol 12,7 cm sedangkan kai kiri memiliki panjang 25,5 dengan lebar dr jari kelingking ke jari jempol 12,2 cm.
Batu ini dahulu berada di sungai ciaruten yang menurut cerita batu ini dipindahkan sedikit demi sedikit oleh sebuah tambang yang di ikatkan ke sebuah pohon besar yang merupakan saksi hidup dari awal batu itu sa,pai batu itu pindah ke tempat yang sekarang.
4.      Kebon Kopi I
Prasasti Kebonkopi I ditemukan di Kampung Muara (kini termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor) pada abad ke-19, ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Oleh karena itu prasasti ini disebut Prasasti Kebonkopi I. Hingga saat ini prasasti tersebut masih berada di tempatnya ditemukan (in situ).
Prasasti Kebonkopi I (dinamakan demikian untuk dibedakan dari Prasasti Kebonkopi II) atau Prasasti Tapak Gajah (karena terdapat pahatan tapak kaki gajah) merupakan salah satu peninggalan kerajaan Tarumanagara.
Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang disusun ke dalam bentuk seloka metrum Anustubh yang diapit sepasang pahatan gambar telapak kaki gajah.
Teks:
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam

Terjemahan:
“Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”.
Dalam mitologi Hindu, Airawata adalah nama seekor gajah putih, wahana Dewa Indra. Airawata merupakan putera dari Irawati, salah satu puteri Daksa. Dalam mitologi Hindu sering digambarkan bahwa Airawata ditunggangi oleh Indra yang membawa senjata Bajra, sambil membasmi makhluk jahat. Menurut mitologi Hindu, Airawata merupakan salah satu gajah penjaga alam semesta. Ia dianggap sebagai pemimpin para gajah.
 
Prassati kebon Kopi I  ini memiliki tinggi 69,5 cm dengan lebar 111 cm dan panjang 200 cm yang berada pada titik koordinat 48 ° LU dan 48 ° LS.










BAB III
Tinjauan Arkeologi

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuno" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Teknik penelitian yang khas adalah penggalian arkeologi penggalian, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.
Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan panjang. Di antaranya adalah apa yang disebut paradigma arkeologi, yang menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta memahami proses perubahan budaya.
Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, ilmu ini termasuk ke dalam kelompok humaniora. Meskipun demikian, ada berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain, sejarah, antropologi, geologi untuk ilmu membentuk lapisan bumi adalah referensi umur relatif dari arkeologi temuan, geografi, arsitektur, paleoantropologi dan bioantropologi, fisika, antara lain , dengan karbon C-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak, ilmu metalurgi untuk mendapatkan unsur-unsur benda logam, serta filologi mempelajari naskah kuno.
Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metoda pengukuran karbon 14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba, meneliti DNAnya.
Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture).
Karena bergantung pada benda-benda peninggalan masa lalu, maka arkeologi sangat membutuhkan kelestarian benda-benda tersebut sebagai sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumberdaya arkeologi (Archaeological Resources Management), atau lebih luas lagi adalah pengelolaan sumberdaya budaya (CRM, Culture Resources Management).
Arkeologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lalu melaluli bukti-bukti fisik yang ditinggalkan oleh orang-orang pada zaman dahulu. Hal ini meliputi artefak-artefak kecil, contohnya seperti mata panah yang digunakan untuk membuat bangunan besar seperti piramida. Dan hal-hal lainnya yang dibuat atau dimodifikasi oleh orang-orang pada zaman dahulu adalah bagian dari catatan arkeologi.
Para Arkeolog menggunakan sisa-sisa peninggalan ini untuk memahami dan menciptakan kembali semua aspek-aspek dari budaya masa lalu, dari kehidupan sehari-hari orang biasa sampai dengan kaisar-kaisar agung. Seringkali, objek-objek ini terkubur dan harus sangat berhati-hati dalam menggali sebelum mereka dapat mempelajarinya. Dalam banyak kasus, hanya ada beberapa petunjuk yang mereka temukan untuk menolong mereka dalam merekonstruksi ulang kehidupan orang-orang kuno. Objek-objek yang ditemukan ini seperti potongan-potongan kecil dari puzzle raksasa yang mereka harus pecahkan.
Arkeologi membantu kita untuk menghargai dan melestarikan warisan orang-orang pada zaman dahulu. Memberitahu kita tentang masa lalu, membantu kita dalam memahami dari mana kita berasal, dan menunjukan kepada kita bagaimana orang-orang pada masa lalu hidup dan menghadapi tantangan, dan mengembangkannya kepada masyarakat luas apa yang kita punya sekarang.







BAB IV
Manfaat Arkeologi Bagi Pembelajaran Sejarah

Sejarah tidak hanya dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi kelompak masyarakat. Sejarah dapat menjadi sumber inspirasi atau memberikan ilham bagi masyarakat lain untuk bangkit dari keterpurukan. Contohnya peristiwa kemenangan jepang atas rusia telah menumbuhkan inspirasi dan semangat bagi negara-negara Asia untuk bangkit menentang penjajahan bangsa Barat. Peristiwa lainnya yaitu Revolusi Perancis yang telah memberikan inspirasi bagi negara-negara lain untuk menempatkan hukum sebagai kekuasaan tertinggi.
Mempelajari sejarah akan dapat memberikan unsur ketrampilan bagi yang mempelajarinya, misalnya ketika kita mempelajari bagaimana nenek moyang kita membuat api maka cara-cara yang dilakukan nenek moyang itu dapat kita contoh hari ini. Begitu juga ketika nenek moyang kita membuat kerajinan logam, itupun bisa kita contoh hari ini.Jadi pada hakekatnya apa yang ada hari ini merupakan produk masa lalu.
Maka dengan kita mengetahui ilmu arkeologi kita bisa mengetahui suatu kebenaran sejarah yang mengenai benda-benda peninggalan zaman dulu yang bersifat ppermanen yang disakralkan oleh para peneliti sebeagai sebuah peninggalan sejarah. Karena peristiwa sejarah  yang meninggalkan benda-benda sejarah tidak akan jauh dari suatu penelitian arkeologi karena memiliki nilai  penting dalam upaya menggambarkan atau memotret keadaan masa lalu sehingga dapat menghasilkan dan menjadikan refleksi pembelajaran  masyarakat sekarang.











BAB V
KESIMPULAN

Dalam penulisan ini dapat di pahami bahwa situs arkeologi di ciampea merupakan sebuah situs yang melambangkan perjalanan seorang raja purnawarman yang  ada di beberapa titik di ciampea bogor salah satunya ada situs batu tulis ciaruten, dimana situs ciaruten merupakan situs yang melambangkan kekuasaan seorang raja purnawarman di daerah jawa barat itu terbukti dengan adanya dua telapak kaki purnawarman yang berada di situs ciaruten, selain prasasti ciaruten terdapat juga beberapa situs yang telah di terangkan di atas.
Peninggalan-peninggalan kerajaan tarumengara ini lah yang menjadi sebuah informasi dan pengetahuan bagi yang hanya mengetahui dari sumber bacaan tanpa terjun langsung ke tempatnya, karena dengan adanya peninggalan-peninggalan ini menjadi sebuah bukti sejarah yang tak bisa di palsukan dengan adanya pendapat-pendapat yang berbeda.
Penggunaan situs-situs mengakibatkan beberapa isu muncul oleh karena itu banyak sekali perbedaan dan persamaan dalam arti yang berkaitan dengan situs-situs.
Kita dapat melihat bahwa peninggalan-peninggalan memiliki arti yang sangat penting bagi beberapa golongan dalam masyarakat disekitaran situs.














DAFTAR PUSTAKA