Pada tanggal 20 Desember 2013
udara yang sangat dingin karena musim penghujan bertepatan pada pukul 07.36 WIB
di depan kampus STKIP yang ramai oleh mahasiswa sejarah yang akan melekukan
observasi, banyak hal yang terjadi diantaranya ada yang sibuk dengan
perlengkapan yang dibawa, ada juga yang sibuk berfoto-foto, masih menguap.
Sebelum berangkat kami melakukan
ceremony sambil menunggu rekan kami yang masih berada di perjalanan, kami
menggunakan 3 mobil diantaranya : 2 mobil yang disewakan melalui pihak panitia
pelaksana dan 1 mobil pinjaman dari
kampus STKIP. Dan kebetulan saya dan rekan saya ikut dengan mobil STKIP bersama
2 dosen atau pembimbing, kami berangkat paling akhir karena sambil menunggu
rekan kami yang tertinggal.
Setelah berjalan beberapa menit
kami berpapasan dengan rekan kami yang tertinggal itu, dan bertepatan pukul
07.49 WIB kami pun berhenti di Pom bensin sambil membuka perbekalan dan
berangkat kembali. Banyak hal yang kami alami selama diperjalanan yaitu dengan terjebak
macet yang lumayan panjang karena adanya kereta api lewat.
Selama perjalanan saya dan rekan
yang lain membuka perbekalan sambil bercerita kesana kemari entah apa yang kita
bicarakan. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di Pom Balaraja kami pun
heran dan bertanya-tanya “masa sih ngisi bensin lagi” dan ternyata karena mobil
yang di tumpangi rekan kami berhenti dengan alasan ada yang ingin buang air
kecil.
Perjalanan pun menjadi kurang
seru karena setelah terjadi sesuatu yang tidak enak di ceritakan teman semobil
saya pun pada tepar (tidur).
Hanya saya yang tersisa atau
tidak tidur, saya pun menghubungi rekan saya yang berbeda dengan mobil yang
ditumpangi dan ternyata sama saja semuanya tertidur kecuali penunjuk jalan
“peta kali “. Dan saya pun kesepian “ lebay banget deh “ terpaksa saya pun
menghabiskan makanan mereka tidak sampai habis sih “ hahhahaa nyam nyam nyamm”
akhirnya teman saya pun bangun karena lapar dan dia pun menghabiskan perbekalanya
kemudian tidur lagi.
Dan setelah perbekalan habis kami
pun merasa lapar kebetulan waktu itu pas jam makan siang dan akhirnya kami
mencari-cari pedagang baso dan akhirnya bertemulah dengan pedagang baso yang
menyelamatkan kami “lebaaayy” waktu itu bertepatan pada pukul 13.00 WIB dan
ternyata sebenarnya pedagang baso itu dekat tapi tidak begitu dekat dengan
penginapan kami, setelah se Jam selesai makan baso kami pun sampai di
penginapan yaitu di apartemen mewah hotel berbintang lima “ menghayal “ tapi
sebenarnya di rumah saudaranya rekan kami tepat pukul 14.05 WIB dan setelah
sepuluh menit berlangsung kami pun dijamu dengan suguhan hidangan yang katanya
makan siang yang sudah di masak pagi hari karena keterlambatan kami sampai
disana penyebabnya adalah macet ya walaupun makanannya udah dingin ya orang
lapar gimana ya habis juga ternyata.
Kami pun diberi arahan oleh dosen
pembimbing sambil bersantai santai tepat pada pukul 14.17 WIB kami disana di
suruh atau ditugaskan untuk mengenali peradaban di daerah penginapan dengan
tujuan memperbandingkan dengan daerah kami seperti apa dan bagaimana, pada
pukul 15.41 WIB kami pun langsung menemui warga dan melakukan interaksi tanya
jawab bagaimana kehidupan di daerah itu karena banyak hal unik terutama pada
perairan irigasi yang berada disitu yang digunakan masyarakat setempat untuk
mandi,mencuci,memancing.
Kami penasaran air yang seperti
itu ko bisa di gunakan sebagai yang sudah saya sebutkan tadi dan banyak
pertanyaan apakah tidak apa-apa apalagi yang mencuci itu anak kecil.
Saya pun melakukan tanya jawab dengan ibu
entah saya lupa lagi namanya siapa alasan mereka mandi dan melakukan hal
lainnya di situ karena dengan alasan air yang mereka punya atau air yang berada
di kamar mandi mereka terasa asin jadi jika di pakai mandi terasa lengket dan
untuk minum mereka membeli air mineral, dan alasan kenapa ibu itu atau anak
kecil di biarkan mencuci pada umur yang masih kecil karena bertujuan untuk
mendidik mereka supaya tidak manja dan hal lainnya.
Setelah kami melakukan pengenalan
peradaban di daerah tersebut karena kami merasa lelah dan hari semakin sore,
kami pun bergegas menuju penginapan dan sesampinya dipenginapan kami pun
langsung mengantri mandi dan solat serta makan malam dan beristirahat setelah
kami beristirahat kira-kira pukul 19.45 WIB kami melakukan diskusi atau
melaporkan temuan kami yang tadi siang kami lakukan yaitu pengenalan peradaban
tersebut. Dan pada pukul 21.54 kami pun merapikan diri untuk siap-siap
memejamkan mata atau tidur.
Pagi hari yang indah dan susana
yang dingin karena penginapan kami terletak di dekat pesawahan yang luas
udaranya pun asri menimbulkan kenyamanan untuk tetap berbaring ditempat tidur
“eiitsss bangun”. Bertepatan pada pukul 04.50 WIB sayapun bangun dan tadinya
saya mau langsung mandi dan ternyata mengantri akhirnya saya tidur lagi dan
bangun pada pukul 05.20 WIB saya langsung mandi dan pukul 05.30 saya melakukan
sembahyang subuh.
Dan pada pukul 06.00 WIB kami pun
makan pagi atau sarapan sambil membereskan atau mempersiapkan alat-alat
observasi dan sekaligus diberi arahan terlebih dahulu oleh dosen pembimbing,
pemberangkatan ke situs pun di lakukan pada pukul 06.46 selama perjalanan kami
melihat pelangi yang sangat indah yang memberi tambahan semangat pagi untuk
saya melakukan observasi yang di tujukan pada tujuan utama yaitu musium
terlebih dahulu dan melihat dan mengenal candi-candi yang berasal dari batu
jaya karawang.
Sesampainya kami di moseum
ternyata moesiumnya belum di buka terpaksa kami menunggu dan setelah kami masuk
dan sempat berfoto dan mendokumentasikannya kami melakukan ceremony yaitu
penyerahan cendera mata sebagai kenang-kenangan dari kami dan memberikan slayer
baduy bertepatan didepan moseum.
Setelah acara penyerahan cendera
mata kami pun melihat lihat apa saja yang berada di moseum, kami banyak melihat
peninggalan-peninggalan bersejarah di sana.
Saya sempat heran kenapa benda-benda
yang rusak ini di simpan dan tidak boleh di pegang dan lainya padahal kan
barang-barang yang berada disana pada rusak. “Eh eh eits bukan sembarang benda ya!! yang disimpan
di moseum itu”
Di museum itu terdapat
temuan-temuan artefak yang berupa keramik, gerabah, fosil tulang binatang
replica kepala arca manusia dan binatang, manik-manik kaca dan tanah liat dan
berbagai bentuk bata pada zaman dahulu.
Tau gk sih Gedung Museum pada
awalnya diperuntukkan sebagai Gedung Penyelamatan Situs Batujaya Kabupaten
Karawang yang dibangun sejak tahun 2002 hingga 2004 dan masa Penataan 2 tahun
(2005-2006). Namun kemudian berupaya dikembangkan sebagai museum meski masih
dalam standar minimal hingga akhirnya
diresmikan pada bulan Oktober 2006 oleh Denny Setiawan, Gubernur
Provinsi Jawa Barat.
Setelah kami melihat-lihat museum
kami langsung melakukan pemetaan yang dibantu oleh dosen pembimbing yang
ditujukan kepada candi yang akan kami telusuri.
Setelah selesai melakukan
pemetaan kami pun mengikuti pak narto dia akan memperlihatkan candi-candi yang
berada disana.
Sebelum kita mengenal jauh bentuk
candi dan lainya kita harus mengetahui apa itu candi? Candi berasal dari kata
“Candika” yang artinya nama salah satu Dewa kematian (Durga). Candi adalah
sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah agama Hindu-Buddha.
Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa.
Yang akan di bahas disini adalah
candi yang berada di karawang diantaranya candi damar yaitu gundukan tanah (
unur / bukit kecil) yang belum di ekskavasi ,tapi mungkin sekarang sudah d
ekskavasi karena menurut pak narto akan di lakukan pada tanggal 2 dan 3 januari
2014.
Setelah melihat candi damar saya
dan rekan yang lain melakukan penelusuran menuju situs candi jiwa yang konon
penamaanya berawal dari warga setempat
yang memberi nama jiwa yaitu dahulunya di daerah itu bertepatan di candi jiwa
sebelum di ekskavasi terlihat atau berbentuk bukit kecil atau unur yang di
manfaatkan warga setempat sebagai tempat pengungsian jika terjadi banjir dan
ketika itu ada warga yang mengamankan hewan ternaknya yaitu kambing yang di
tambatkan di unur itu dan tak lama kemudian kambing itu mati dan warga sekitar
berpikiran unur atau bukit itu menginginkan nyawa atau jiwa maka warga setempat
menamainya unur jiwa dan kemudian setelah di ekskavasi di temukan candi persis
di tempat itu dan kemudian diberi nama candi jiwa. Bangunan yang berukuran ini
tidak mempunyai tangga masuk struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti
bunga padma (bunga teratai). Pada bagian 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter
tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa
atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga
wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang
berbunga mekar dan terapung di atas air. Ketika umat Budha melakukan ritual di
tempat ini mereka mengelilingi atau mengitari candi seperti arah putaran jam.
Dan saya beserta rekan saya pada waktu itu melihat bekas bunga-bunga yang
katanya malam sebelum kami melakukan observasi ada yang telah melakukan ritual
pemujaan. Dan ada juga mitos entah itu benar atau tidak warga setempat jika
mengadakan pesta kenduri barang-barang atau alat-alat seperti piring pinjam ke
candi jiwa tersebut.
Kemudian setelah kami selesai
menguak rasa penasaran kami terhadap candi jiwa dan kami pun bergegas
melanjutkan penelusuran ke candi Blandongan adapun bentuk candi blandongan
seperti gambar di bawah ini.
Di candi blandongan berbeda dengan candi jiwa
perbedaannya sangat jelas candi Blandongan mempunyai empat pintu masuk yang
berbentuk tangga dan ada juga bentuk dari candi blandongan itu ialah bujur
sangkar, di atas candi blandongan konon katanya di gunakan tempat meminta restu
dari kedua orangtua untuk menjalankan pernikahan selain itu juga candi
blandongan juga biasa di pakai tempat peribadatan umat hindu. Dan di bagian
luar candi ada tempat duduk atau di kelilingi batu besar konon katanya tempat
pemujaan.
Setelah dari candi blandongan
walaupun panas menyengat dan ditambah rasa haus yang berlebihan kami tetap
melanjutkan penelusuran dengan canda tawa dibawah terik matahari yang panasnya
sampai menusuk tulang dan kami tetap berjalan sambil menahan rasa panas walaupun
badan kita terbakar di tambah lagi kobaran api semangat dari diri kami “wawww
lebay”.
Candi selanjutnya yang kami tuju
ialah candi serut kami disana menemukan 2 candi yang disebut candi serut A dan
candi serut B.
Candi serut A biasa digunakan
sebagai pensucian diri atau pencucian jiwa sedangkan pada Candi serut B di
gunakan sebagai pemujaan.
Dengan rasa lelah kami tetap
melakukan penelusuran kesitus lainnya diantaranya Situs Candi Sumur padahal
candi itu bukan lah candi sumur di duga itu adalah pondasi candi yang belum
jadi karena bentuknya seperti genangan air atau batuan tenggelam maka warga
setempat menyebutnya candi sumur seperti pada gambar di samping, Kemudian kami
melakukan penelusuran selanjutnya yaitu kami menemukan 3 lingga yang berada di
tempat yang berbeda 2 lingga terdapat persis berdekatan dengan sebuah kuburan
dan yang satunya lagi hampir tidak terlihat karena posisinya hampir jatuh
kepesawahan karena camera yang saya gunakan batrei nya habis jadi saya tidak
mendapatkan gambar situs lingga tersebut dan kebetulan rekan saya pun tidak
mengambil gambar situs lingga yang berada di daerah karawang jawa barat.
Kemudian kami pun memutar arah
kembali untuk bergegas menuju penginapan dan melewati candi sebelumnya akan
tetapi ternyata ada candi yang terlewat oleh kami dan kami pun penasaran dengan
candi terakhir yang terlewat oleh kami itu ternyata ada mitos tertentu yang
terdapat pada candi itu, candi itu bernama candi lempeng yang berupa sumur
konon jika mandi atau mencuci muka di sumur itu kita akan terlihat awet muda “
wooooooooooowwwwww awet muda” kami pun tapi hanya sebagian berlarian ingin
mencuci muka di sumur itu. Dan ada diantara kami membekal air itu untuk dibawa
pulang , Yang saya herankan kenapa air di sumur itu sangat dingin dan tidak
terasa asin seperti sumur yang berada di daerah itu padahal lokasi itu yang
paling dekat dengan laut.
Selain itu ada juga mitos katanya
sumur itu seperti sumur harapan entah seperti apa cara kerjanya tapi jika kita
datang kesumur itu dan meminta suatu harapan maka harapan kita terkabul.
“wowwwwww ko bisa yaa”
Kira-kira pukul 14.50 WIB kami
bergegas pulang ke penginapan dengan rasa campur aduk “ Es campur kali campur
aduk” ada rasa senang cape dan hal lainya.
Setelah sampai di penginapan kami
pun beristirahat ISHOMA (istirahat solat makan ) sambil berbincang-bincang dan
seru-seruan.
Kami pun di kumpulkan kembali
untuk melakukan briefing dengan rasa
lelahpun karena istirahatnya kurang maksimal.
Dan kami di tujukan untuk
menampilkan hasil observasi kami dengan perkelompok yang sudah dibagikan dengan
rasa yang sebenarnya semua orang juga merasakan kepenatan itu tiap dari masing
masing kelompok menampilkan hasilnya. Dan jika ada yang sudah kebagian
mempresentasikan atau menuggu bagian kelompoknya dipanggil kami sekalian
tukar-tukar foto serta menyelesaikan lembar kerja atau merapikan lembar kerja
serta catatan perjalanan.
Setelah acara itu selesai kami
sepakat pada hari dan waktu itu dan malam itu untuk kembali pulang ke
Rangkasbitung dengan alasan agar tidak terjebak macet sedang berdiskusipun kami
sibuk dengan mempersiapkan barang-barang untuk pulang kami tidak memikirkan
apapun yang kami pikirkan hanya ingin pulang “ takut di tinggalin, mungkin”.
Dan ada juga yang sibuk menunggu pesanan oleh-oleh yang sudah di pesan.
Setelah kami berkemas-kemas
kamipun pamitan kepada warga yang berada di sekitar tempat kami menginap dan
masih melek untuk pamit, selama perjalanan tidak terasa ternyata hujan awalnya
saya tidak bisa tidur akan tetapi karena merasa lelah dan udaranya yang sangat
dingin tidak terasa saya pun ikut tidur. Ketika diperjalanan entah dimana mobil
kami berhenti saya pun terbangun dan setelah itu saya pun tertidur kembali tak
terasa sesampainya di kampus STKIP dan kamipun pergi ke habitat masing-masing “
hahaha hewan kali”.