Minggu, 23 Maret 2014

Nyukcruk Galur Mapay Laratan Tapak Karuhun "Edisi Karawang"



Pada tanggal 20 Desember 2013 udara yang sangat dingin karena musim penghujan bertepatan pada pukul 07.36 WIB di depan kampus STKIP yang ramai oleh mahasiswa sejarah yang akan melekukan observasi, banyak hal yang terjadi diantaranya ada yang sibuk dengan perlengkapan yang dibawa, ada juga yang sibuk berfoto-foto, masih menguap.

Sebelum berangkat kami melakukan ceremony sambil menunggu rekan kami yang masih berada di perjalanan, kami menggunakan 3 mobil diantaranya : 2 mobil yang disewakan melalui pihak panitia pelaksana  dan 1 mobil pinjaman dari kampus STKIP. Dan kebetulan saya dan rekan saya ikut dengan mobil STKIP bersama 2 dosen atau pembimbing, kami berangkat paling akhir karena sambil menunggu rekan kami yang tertinggal.

Setelah berjalan beberapa menit kami berpapasan dengan rekan kami yang tertinggal itu, dan bertepatan pukul 07.49 WIB kami pun berhenti di Pom bensin sambil membuka perbekalan dan berangkat kembali. Banyak hal yang kami alami selama diperjalanan yaitu dengan terjebak macet yang lumayan panjang karena adanya kereta api lewat.

Selama perjalanan saya dan rekan yang lain membuka perbekalan sambil bercerita kesana kemari entah apa yang kita bicarakan. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di Pom Balaraja kami pun heran dan bertanya-tanya “masa sih ngisi bensin lagi” dan ternyata karena mobil yang di tumpangi rekan kami berhenti dengan alasan ada yang ingin buang air kecil.

Perjalanan pun menjadi kurang seru karena setelah terjadi sesuatu yang tidak enak di ceritakan teman semobil saya pun pada tepar (tidur).

Hanya saya yang tersisa atau tidak tidur, saya pun menghubungi rekan saya yang berbeda dengan mobil yang ditumpangi dan ternyata sama saja semuanya tertidur kecuali penunjuk jalan “peta kali “. Dan saya pun kesepian “ lebay banget deh “ terpaksa saya pun menghabiskan makanan mereka tidak sampai habis sih “ hahhahaa nyam nyam nyamm” akhirnya teman saya pun bangun karena lapar dan dia pun menghabiskan perbekalanya kemudian tidur lagi.

Dan setelah perbekalan habis kami pun merasa lapar kebetulan waktu itu pas jam makan siang dan akhirnya kami mencari-cari pedagang baso dan akhirnya bertemulah dengan pedagang baso yang menyelamatkan kami “lebaaayy” waktu itu bertepatan pada pukul 13.00 WIB dan ternyata sebenarnya pedagang baso itu dekat tapi tidak begitu dekat dengan penginapan kami, setelah se Jam selesai makan baso kami pun sampai di penginapan yaitu di apartemen mewah hotel berbintang lima “ menghayal “ tapi sebenarnya di rumah saudaranya rekan kami tepat pukul 14.05 WIB dan setelah sepuluh menit berlangsung kami pun dijamu dengan suguhan hidangan yang katanya makan siang yang sudah di masak pagi hari karena keterlambatan kami sampai disana penyebabnya adalah macet ya walaupun makanannya udah dingin ya orang lapar gimana ya habis juga ternyata.

Kami pun diberi arahan oleh dosen pembimbing sambil bersantai santai tepat pada pukul 14.17 WIB kami disana di suruh atau ditugaskan untuk mengenali peradaban di daerah penginapan dengan tujuan memperbandingkan dengan daerah kami seperti apa dan bagaimana, pada pukul 15.41 WIB kami pun langsung menemui warga dan melakukan interaksi tanya jawab bagaimana kehidupan di daerah itu karena banyak hal unik terutama pada perairan irigasi yang berada disitu yang digunakan masyarakat setempat untuk mandi,mencuci,memancing.

Kami penasaran air yang seperti itu ko bisa di gunakan sebagai yang sudah saya sebutkan tadi dan banyak pertanyaan apakah tidak apa-apa apalagi yang mencuci itu anak kecil.

 Saya pun melakukan tanya jawab dengan ibu entah saya lupa lagi namanya siapa alasan mereka mandi dan melakukan hal lainnya di situ karena dengan alasan air yang mereka punya atau air yang berada di kamar mandi mereka terasa asin jadi jika di pakai mandi terasa lengket dan untuk minum mereka membeli air mineral, dan alasan kenapa ibu itu atau anak kecil di biarkan mencuci pada umur yang masih kecil karena bertujuan untuk mendidik mereka supaya tidak manja dan hal lainnya.

Setelah kami melakukan pengenalan peradaban di daerah tersebut karena kami merasa lelah dan hari semakin sore, kami pun bergegas menuju penginapan dan sesampinya dipenginapan kami pun langsung mengantri mandi dan solat serta makan malam dan beristirahat setelah kami beristirahat kira-kira pukul 19.45 WIB kami melakukan diskusi atau melaporkan temuan kami yang tadi siang kami lakukan yaitu pengenalan peradaban tersebut. Dan pada pukul 21.54 kami pun merapikan diri untuk siap-siap memejamkan mata atau tidur.

Pagi hari yang indah dan susana yang dingin karena penginapan kami terletak di dekat pesawahan yang luas udaranya pun asri menimbulkan kenyamanan untuk tetap berbaring ditempat tidur “eiitsss bangun”. Bertepatan pada pukul 04.50 WIB sayapun bangun dan tadinya saya mau langsung mandi dan ternyata mengantri akhirnya saya tidur lagi dan bangun pada pukul 05.20 WIB saya langsung mandi dan pukul 05.30 saya melakukan sembahyang subuh.

Dan pada pukul 06.00 WIB kami pun makan pagi atau sarapan sambil membereskan atau mempersiapkan alat-alat observasi dan sekaligus diberi arahan terlebih dahulu oleh dosen pembimbing, pemberangkatan ke situs pun di lakukan pada pukul 06.46 selama perjalanan kami melihat pelangi yang sangat indah yang memberi tambahan semangat pagi untuk saya melakukan observasi yang di tujukan pada tujuan utama yaitu musium terlebih dahulu dan melihat dan mengenal candi-candi yang berasal dari batu jaya karawang.

Sesampainya kami di moseum ternyata moesiumnya belum di buka terpaksa kami menunggu dan setelah kami masuk dan sempat berfoto dan mendokumentasikannya kami melakukan ceremony yaitu penyerahan cendera mata sebagai kenang-kenangan dari kami dan memberikan slayer baduy bertepatan didepan moseum.

Setelah acara penyerahan cendera mata kami pun melihat lihat apa saja yang berada di moseum, kami banyak melihat peninggalan-peninggalan bersejarah di sana.

Saya sempat heran kenapa benda-benda yang rusak ini di simpan dan tidak boleh di pegang dan lainya padahal kan barang-barang yang berada disana pada rusak. “Eh eh  eits bukan sembarang benda ya!! yang disimpan di moseum itu”

Di museum itu terdapat temuan-temuan artefak yang berupa keramik, gerabah, fosil tulang binatang replica kepala arca manusia dan binatang, manik-manik kaca dan tanah liat dan berbagai bentuk bata pada zaman dahulu.

Tau gk sih Gedung Museum pada awalnya diperuntukkan sebagai Gedung Penyelamatan Situs Batujaya Kabupaten Karawang yang dibangun sejak tahun 2002 hingga 2004 dan masa Penataan 2 tahun (2005-2006). Namun kemudian berupaya dikembangkan sebagai museum meski masih dalam standar minimal hingga akhirnya  diresmikan pada bulan Oktober 2006 oleh Denny Setiawan, Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Setelah kami melihat-lihat museum kami langsung melakukan pemetaan yang dibantu oleh dosen pembimbing yang ditujukan kepada candi yang akan kami telusuri.

Setelah selesai melakukan pemetaan kami pun mengikuti pak narto dia akan memperlihatkan candi-candi yang berada disana.

Sebelum kita mengenal jauh bentuk candi dan lainya kita harus mengetahui apa itu candi? Candi berasal dari kata “Candika” yang artinya nama salah satu Dewa kematian (Durga). Candi adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa.

Yang akan di bahas disini adalah candi yang berada di karawang diantaranya candi damar yaitu gundukan tanah ( unur / bukit kecil) yang belum di ekskavasi ,tapi mungkin sekarang sudah d ekskavasi karena menurut pak narto akan di lakukan pada tanggal 2 dan 3 januari 2014.

Setelah melihat candi damar saya dan rekan yang lain melakukan penelusuran menuju situs candi jiwa yang konon penamaanya  berawal dari warga setempat yang memberi nama jiwa yaitu dahulunya di daerah itu bertepatan di candi jiwa sebelum di ekskavasi terlihat atau berbentuk bukit kecil atau unur yang di manfaatkan warga setempat sebagai tempat pengungsian jika terjadi banjir dan ketika itu ada warga yang mengamankan hewan ternaknya yaitu kambing yang di tambatkan di unur itu dan tak lama kemudian kambing itu mati dan warga sekitar berpikiran unur atau bukit itu menginginkan nyawa atau jiwa maka warga setempat menamainya unur jiwa dan kemudian setelah di ekskavasi di temukan candi persis di tempat itu dan kemudian diberi nama candi jiwa. Bangunan yang berukuran ini tidak mempunyai tangga masuk struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Ketika umat Budha melakukan ritual di tempat ini mereka mengelilingi atau mengitari candi seperti arah putaran jam. Dan saya beserta rekan saya pada waktu itu melihat bekas bunga-bunga yang katanya malam sebelum kami melakukan observasi ada yang telah melakukan ritual pemujaan. Dan ada juga mitos entah itu benar atau tidak warga setempat jika mengadakan pesta kenduri barang-barang atau alat-alat seperti piring pinjam ke candi jiwa tersebut.

Kemudian setelah kami selesai menguak rasa penasaran kami terhadap candi jiwa dan kami pun bergegas melanjutkan penelusuran ke candi Blandongan adapun bentuk candi blandongan seperti gambar di bawah ini.

 Di candi blandongan berbeda dengan candi jiwa perbedaannya sangat jelas candi Blandongan mempunyai empat pintu masuk yang berbentuk tangga dan ada juga bentuk dari candi blandongan itu ialah bujur sangkar, di atas candi blandongan konon katanya di gunakan tempat meminta restu dari kedua orangtua untuk menjalankan pernikahan selain itu juga candi blandongan juga biasa di pakai tempat peribadatan umat hindu. Dan di bagian luar candi ada tempat duduk atau di kelilingi batu besar konon katanya tempat pemujaan.

Setelah dari candi blandongan walaupun panas menyengat dan ditambah rasa haus yang berlebihan kami tetap melanjutkan penelusuran dengan canda tawa dibawah terik matahari yang panasnya sampai menusuk tulang dan kami tetap berjalan sambil menahan rasa panas walaupun badan kita terbakar di tambah lagi kobaran api semangat dari diri kami “wawww lebay”.

Candi selanjutnya yang kami tuju ialah candi serut kami disana menemukan 2 candi yang disebut candi serut A dan candi serut B.

Candi serut A biasa digunakan sebagai pensucian diri atau pencucian jiwa sedangkan pada Candi serut B di gunakan sebagai pemujaan.

Dengan rasa lelah kami tetap melakukan penelusuran kesitus lainnya diantaranya Situs Candi Sumur padahal candi itu bukan lah candi sumur di duga itu adalah pondasi candi yang belum jadi karena bentuknya seperti genangan air atau batuan tenggelam maka warga setempat menyebutnya candi sumur seperti pada gambar di samping, Kemudian kami melakukan penelusuran selanjutnya yaitu kami menemukan 3 lingga yang berada di tempat yang berbeda 2 lingga terdapat persis berdekatan dengan sebuah kuburan dan yang satunya lagi hampir tidak terlihat karena posisinya hampir jatuh kepesawahan karena camera yang saya gunakan batrei nya habis jadi saya tidak mendapatkan gambar situs lingga tersebut dan kebetulan rekan saya pun tidak mengambil gambar situs lingga yang berada di daerah karawang jawa barat.

Kemudian kami pun memutar arah kembali untuk bergegas menuju penginapan dan melewati candi sebelumnya akan tetapi ternyata ada candi yang terlewat oleh kami dan kami pun penasaran dengan candi terakhir yang terlewat oleh kami itu ternyata ada mitos tertentu yang terdapat pada candi itu, candi itu bernama candi lempeng yang berupa sumur konon jika mandi atau mencuci muka di sumur itu kita akan terlihat awet muda “ wooooooooooowwwwww awet muda” kami pun tapi hanya sebagian berlarian ingin mencuci muka di sumur itu. Dan ada diantara kami membekal air itu untuk dibawa pulang , Yang saya herankan kenapa air di sumur itu sangat dingin dan tidak terasa asin seperti sumur yang berada di daerah itu padahal lokasi itu yang paling dekat dengan laut.

Selain itu ada juga mitos katanya sumur itu seperti sumur harapan entah seperti apa cara kerjanya tapi jika kita datang kesumur itu dan meminta suatu harapan maka harapan kita terkabul. “wowwwwww ko bisa yaa”

Kira-kira pukul 14.50 WIB kami bergegas pulang ke penginapan dengan rasa campur aduk “ Es campur kali campur aduk” ada rasa senang cape dan hal lainya.

Setelah sampai di penginapan kami pun beristirahat ISHOMA (istirahat solat makan ) sambil berbincang-bincang dan seru-seruan.

Kami pun di kumpulkan kembali untuk melakukan briefing  dengan rasa lelahpun karena istirahatnya kurang maksimal.

Dan kami di tujukan untuk menampilkan hasil observasi kami dengan perkelompok yang sudah dibagikan dengan rasa yang sebenarnya semua orang juga merasakan kepenatan itu tiap dari masing masing kelompok menampilkan hasilnya. Dan jika ada yang sudah kebagian mempresentasikan atau menuggu bagian kelompoknya dipanggil kami sekalian tukar-tukar foto serta menyelesaikan lembar kerja atau merapikan lembar kerja serta catatan perjalanan.

Setelah acara itu selesai kami sepakat pada hari dan waktu itu dan malam itu untuk kembali pulang ke Rangkasbitung dengan alasan agar tidak terjebak macet sedang berdiskusipun kami sibuk dengan mempersiapkan barang-barang untuk pulang kami tidak memikirkan apapun yang kami pikirkan hanya ingin pulang “ takut di tinggalin, mungkin”. Dan ada juga yang sibuk menunggu pesanan oleh-oleh yang sudah di pesan.


Setelah kami berkemas-kemas kamipun pamitan kepada warga yang berada di sekitar tempat kami menginap dan masih melek untuk pamit, selama perjalanan tidak terasa ternyata hujan awalnya saya tidak bisa tidur akan tetapi karena merasa lelah dan udaranya yang sangat dingin tidak terasa saya pun ikut tidur. Ketika diperjalanan entah dimana mobil kami berhenti saya pun terbangun dan setelah itu saya pun tertidur kembali tak terasa sesampainya di kampus STKIP dan kamipun pergi ke habitat masing-masing “ hahaha hewan kali”.